Talasemia Kelainan Darah Keturunan yang Perlu Dikenali sejak Dini
- 13 Jun 2026 08:47 WIB
- Sorong
RRI.CO.ID, Sorong - Talasemia merupakan salah satu penyakit kelainan darah yang diturunkan dari orang tua kepada anak melalui gen. Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup atau dalam bentuk yang normal. Hemoglobin sendiri adalah protein yang terdapat di dalam sel darah merah dan berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Akibat gangguan tersebut, penderita talasemia sering mengalami anemia atau kekurangan sel darah merah.
Talasemia termasuk penyakit genetik yang cukup banyak ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit ini tidak menular dan tidak disebabkan oleh pola hidup atau kebiasaan tertentu, melainkan diwariskan melalui faktor keturunan. Seseorang dapat menjadi pembawa sifat talasemia tanpa mengalami gejala apa pun, tetapi tetap berpotensi menurunkan gen tersebut kepada anak-anaknya.
Gejala talasemia dapat berbeda-beda tergantung tingkat keparahannya. Pada kasus ringan, penderita mungkin hanya mengalami anemia ringan atau bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali. Namun pada kasus yang lebih berat, gejala dapat berupa tubuh mudah lelah, kulit pucat, sesak napas, pertumbuhan yang terhambat, pembesaran limpa, serta perubahan bentuk tulang terutama pada wajah. Gejala biasanya mulai terlihat sejak masa bayi atau anak-anak.
Talasemia dibagi menjadi beberapa jenis, yang paling umum adalah talasemia alfa dan talasemia beta. Tingkat keparahan penyakit juga berbeda-beda, mulai dari talasemia minor yang umumnya tidak menimbulkan keluhan berarti hingga talasemia mayor yang membutuhkan perawatan medis secara rutin sepanjang hidup.
Pada penderita talasemia mayor, transfusi darah secara berkala sering kali diperlukan untuk menjaga kadar hemoglobin tetap stabil. Namun, transfusi yang dilakukan berulang kali dapat menyebabkan penumpukan zat besi di dalam tubuh. Oleh karena itu, penderita biasanya juga memerlukan terapi khusus untuk mengurangi kelebihan zat besi agar tidak merusak organ-organ penting seperti jantung dan hati.
Karena merupakan penyakit keturunan, pencegahan talasemia lebih difokuskan pada deteksi dini dan pemeriksaan genetik. Pemeriksaan kesehatan sebelum menikah atau sebelum merencanakan kehamilan dapat membantu mengetahui apakah seseorang merupakan pembawa sifat talasemia. Jika kedua orang tua sama-sama membawa gen talasemia, risiko anak lahir dengan talasemia mayor akan lebih tinggi.
Meski talasemia merupakan penyakit yang berlangsung seumur hidup, penderita tetap dapat menjalani aktivitas dan meraih prestasi seperti orang pada umumnya apabila mendapatkan pengobatan dan perawatan yang tepat. Dukungan keluarga, lingkungan, serta akses terhadap layanan kesehatan yang memadai juga sangat penting untuk membantu meningkatkan kualitas hidup penderita.
Oleh karena itu, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang talasemia menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan dan deteksi dini. Semakin banyak orang yang memahami penyakit ini, semakin besar pula peluang untuk mengurangi jumlah kasus talasemia berat di masa mendatang dan membantu para penderitanya menjalani hidup yang lebih sehat dan produktif. (Grace)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....