Perokok Pasif ternyata Lebih Berisiko Terkena Penyakit Paru

  • 29 Mei 2026 07:36 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Bahaya rokok ternyata tidak hanya mengintai perokok aktif, tetapi juga perokok pasif yang setiap hari menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam talkshow Spada “Selamat Pagi Teman Pro 2” RRI Mataram (Kamis, 28 Mei 2026, pukul 09.00-10.00 Wita) bersama dr. Sahrun, Sp.P, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Menurut dr. Sahrun, perokok pasif justru dapat menerima risiko kesehatan lebih tinggi karena menghirup langsung asap rokok yang keluar dari pembakaran tembakau tanpa melalui filter. Asap tersebut mengandung berbagai zat berbahaya seperti nikotin, tar, karbon monoksida, formaldehida, dan zat toksik lainnya yang dapat merusak organ tubuh.

Dilansir dari World Health Organization, paparan asap rokok dapat menyebabkan kanker paru, penyakit jantung, stroke, serta gangguan pernapasan kronis pada orang dewasa maupun anak-anak. WHO juga menyebut jutaan kematian setiap tahun terjadi akibat paparan asap rokok, termasuk pada perokok pasif.

Dr. Sahrun menjelaskan bahwa risiko kanker paru dan bronkitis pada perokok pasif bisa meningkat dua hingga empat kali lipat dibandingkan orang yang tidak terpapar asap rokok. Bahkan, anggota keluarga yang tinggal serumah dengan perokok aktif memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kronis akibat paparan jangka panjang.

Ia menambahkan, istri dari perokok aktif memiliki risiko sekitar 30 persen lebih tinggi terkena kanker paru. Anak-anak yang sering terpapar asap rokok juga lebih mudah mengalami infeksi saluran pernapasan, batuk kronis, hingga gangguan pertumbuhan paru-paru.

Untuk mengurangi paparan asap rokok di tempat umum, dr. Sahrun menyarankan masyarakat menggunakan masker, menjauhi area merokok, dan memilih ruangan bebas asap rokok. Ia juga menilai komunikasi yang baik penting dilakukan ketika ingin menegur perokok di area publik.

Selain itu, edukasi mengenai bahaya rokok perlu terus dilakukan, terutama kepada generasi muda. Menurut dr. Sahrun, lingkungan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan merokok karena banyak remaja mulai merokok akibat melihat orang tua, saudara, atau teman di sekitarnya yang juga merokok.

Melalui peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, masyarakat diharapkan semakin sadar bahwa bahaya rokok tidak hanya dirasakan perokok aktif, tetapi juga orang-orang di sekitarnya yang ikut menghirup asap rokok setiap hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....