Nutrigenomics 6.0 Dorong Gizi Presisi Adaptif Indonesia

  • 17 Mei 2026 15:12 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Konsep gizi presisi kini mulai diarahkan menjadi bagian dari sistem kesehatan adaptif di Indonesia. Dalam artikel “Nutrisi Presisi, Indonesia Jaya” dari Kementerian Kesehatan RI dijelaskan bahwa Nutrigenomics 6.0 tidak hanya berbicara soal gen, omics, mikrobiota, dan kecerdasan buatan, tetapi bagaimana pendekatan tersebut dapat diterapkan secara nyata hingga tingkat layanan primer seperti Puskesmas, Posyandu, dan rumah tangga.

Pendekatan ini memperlakukan gizi presisi sebagai learning health system atau sistem kesehatan yang terus belajar dari data dan memperbaiki keputusan secara berkelanjutan. Rumus utamanya yakni genotipe × keadaan biologis × lingkungan × waktu. Artinya, rekomendasi gizi tidak bersifat permanen karena kondisi tubuh, gaya hidup, dan lingkungan seseorang terus berubah dari waktu ke waktu.

Nutrigenomics 6.0 juga menolak dua pendekatan ekstrem dalam layanan gizi. Di satu sisi, tes genom untuk semua orang dianggap belum tentu diperlukan dan masih mahal. Namun di sisi lain, penggunaan metode lama tanpa pembaruan data dinilai membuat program gizi berjalan seperti autopilot dan kurang mampu membaca keragaman respons biologis masyarakat. Karena itu, pendekatan yang dipilih adalah memulai dari intervensi paling berdampak, mengukur respons tubuh, lalu memperbaiki rekomendasi berdasarkan hasil nyata.

Teknologi kesehatan diposisikan sebagai alat bantu yang rasional dan terukur. Penggunaan Continuous Glucose Monitor (CGM), wearable device, hingga pemantauan Heart Rate Variability (HRV) dinilai dapat membantu membaca kondisi metabolisme, pola tidur, aktivitas, dan stres fisiologis secara lebih objektif. Bahkan pendekatan multiomics digunakan bukan sekadar mengikuti tren teknologi mahal, melainkan untuk melihat perubahan biologis yang benar-benar relevan terhadap kondisi kesehatan seseorang.

Kementerian Kesehatan RI menilai konsep gizi presisi selaras dengan arah transformasi layanan kesehatan nasional, terutama dalam penguatan layanan primer berbasis data dan teknologi. Puskesmas, Posyandu, dan kader kesehatan disebut dapat menjadi ujung tombak implementasi karena paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan sistem pencatatan yang rapi, indikator yang konsisten, dan tenaga kesehatan yang terlatih, program gizi diharapkan mampu memberikan intervensi yang lebih cerdas, adaptif, dan tepat sasaran. ( Sumber : Kemkes Ri )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....