Toxic Positivity: Selalu Bahagia itu Nggak Sehat

  • 19 Apr 2026 18:29 WIB
  •  Sorong

RRI.CO.ID, Sorong- Pernahkan anda sedang merasa sedih dan kecewa, namun dituntut untuk selalu bahagia dan berpikir positif, apalagi maraknya konten motivasi dan kutipan inspiratif di media sosial dengan pesan “selalu positif” selalu membayang-bayangngi kehidupan kita. Sekilas memang terdengar baik, namun ketika dorongan untuk selalu bahagian ini menjadi sebuah tuntutan yang tidak realistis maka muncullah fenomena yang dikenal dengan toxic positivity.

Toxic positivity ini merupakan keyakinan bahwa seseorang harus tetap bahagia dan berpikir positif di setiap situasi. Bahkan saat marah, sedih, kecewa, dan perasaan negatif lainnya. Emosi negatif dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari padahal untuk menghindarinya tidak sesimpel itu.

Menurut para ahli emosi negatif adalah sesuatu yang alami. Sebagai manusia wajar jika memiliki perasaan negative hal ini karena spektrum emosi yang luas. Sangat wajar jika seseorang merasa sedih saat kehilanan, marah saat diperlakukan buruk, dan kecewa saat dikhianati. Memaksakan diri untuk selalu bahagia justru bisa dianggap menyangkal perasaan sendiri.

Sebagai manusia biasa menekan emosi negatif memang perlu namun bukan berarti menghilangkannya. Perasaan tersebut akan tetap ada hanya apabila jika disimpan terus akan berpotensi merugikan seperti adanya ledakan emosi.

Alih-alih membantu, toxic positivity bisa memberikan dampak yang tidak sehat, baik secara mental maupun sosial:

  1. Menghambat pemrosesan emosi

Ketika seseorang dipaksa untuk positif ia akan kehilangan kesempatan untuk memahami emosinya secara sehat.

  1. Menimbulkan rasa bersalah

Orang yang merasa bersedih jika dipaksa untuk tetap positif akan merasa kurang bersyukur saat dipaksa untuk bahagia.

  1. Merusak hubungan sosial

Jika anda sedang curhat dengan seseorang dan mendapat respon “jangan bersedih” dan “Pikirkan yang positif saja” justru akan membuat anda merasa tidak didengar dan diabaikan.

  1. Mengganggu kesehatan mental

Dengan adanya toxic positivity ini muncul standar baru soal bahagia dan menciptakan tekanan internal yang tidak realistis dan melelahkan.

Berpikir positif sebenarnya tidak salah. Yang menjadi masalah adalah ketika hal itu dilakukan secara berlebihan dan mengabaikan realitas. Positif yang sehat adalah mengakui perasaan sulit, tetapi tetap mencari cara untuk bangkit secara bertahap. Sedangkan toxic positivity adalah menolak emosi negatif dan memaksakan kebahagiaan instan.

Untuk menjaga kesehatan mental, penting untuk memiliki hubungan yang jujur dengan emosi sendiri penting untuk mengizinkan diri merasakan emosi, tanpa menghakimi, ekspresikan perasaan melalui tulisan, bicara, atau aktivitas kreatif, jika anda di posisi pendengar, dengarkan orang lain tanpa buru-buru memberi “nasihat positif”.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....