Sejarah Panjang Manusia Melawan Campak
- 30 Mar 2026 20:45 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Campak bukan sekadar penyakit anak-anak biasa. Selama ribuan tahun, virus ini telah merenggut jutaan nyawa, menghancurkan komunitas terisolasi, dan memaksa ilmuwan dunia untuk berlomba menciptakan perlindungan yang efektif. Kisah perjuangan melawan campak adalah salah satu babak paling dramatis dalam sejarah kesehatan manusia.
Dikutip dari situs resmi organisasi kesehatan dunia (WHO) Campak bukan penyakit baru. Akarnya diperkirakan berasal dari ribuan tahun silam, ketika virus pada hewan ternak khususnya rinderpest yang menyerang sapi dan bison secara bertahap bermutasi dan berpindah ke manusia. Proses ini, yang dikenal sebagai zoonosis, menjadikan campak sebagai warisan tak diundang dari kehidupan pertanian purba.
Deskripsi medis paling awal dan paling sistematis tentang campak ditulis oleh cendekiawan Persia, Abū Bakr Muhammad Zakariyyā Rāzī, yang hidup antara tahun 854 hingga 925 Masehi. Ia berhasil membedakan campak dari cacar dan cacar air sebuah pencapaian luar biasa di zamannya. Baru pada sekitar abad ke-11 hingga ke-12, virus campak sepenuhnya berevolusi menjadi patogen tersendiri yang khusus menginfeksi manusia, bertepatan dengan era kota-kota besar Eropa abad pertengahan yang mulai padat penduduk.
Seiring meluasnya eksplorasi dan perdagangan global pada abad ke-16, campak menyebar ke penjuru dunia dengan dampak yang menghancurkan.
Komunitas yang belum pernah terpapar campak menjadi yang paling rentan. Sejarah mencatat beberapa wabah dahsyat akibat pertemuan pertama antara virus ini dan populasi yang sama sekali tidak memiliki kekebalan.
Kepulauan Faroe pada 1846, Hawaii pada 1848, Fiji pada 1875, dan Rotuma pada 1911 masing-masing mengalami wabah yang meluluhlantakkan. Di wilayah-wilayah itu, campak bukan sekadar penyakit ia adalah bencana yang mampu melumpuhkan seluruh komunitas dalam waktu singkat.
Satu dekade sebelum vaksin ditemukan pada 1963, campak menjangkiti hampir setiap anak di Amerika Serikat sebelum mereka mencapai usia 15 tahun. Setiap tahun, sekitar tiga hingga empat juta orang terinfeksi, 400 hingga 500 di antaranya meninggal dunia, 48.000 orang dirawat inap, dan sekitar seribu kasus mengalami ensefalitis pembengkakan otak yang dapat menyebabkan kerusakan permanen, ketulian, kebutaan, bahkan kematian.
Di tingkat global, situasinya jauh lebih suram. Sebelum era vaksinasi massal, campak menyebabkan sekitar 30 juta kasus dan lebih dari dua juta kematian setiap tahunnya di seluruh dunia.
Tahun 1954 menjadi titik balik dalam sejarah perlawanan terhadap campak. Sebuah wabah melanda sebuah sekolah asrama di pinggiran Boston, Massachusetts. Para dokter dari Boston Children's Hospital melihat ini sebagai kesempatan langka untuk mengisolasi virus campak secara langsung.
Thomas Peebles, seorang dokter muda, mengambil usap tenggorokan dan sampel darah dari para siswa yang terinfeksi. Dari seorang siswa berusia 11 tahun bernama David Edmonston, Peebles berhasil mengkultur virus campak untuk pertama kalinya.
Keberhasilan itu menjadi fondasi bagi atasannya, John Franklin Enders yang kelak dijuluki 'bapak vaksin modern' untuk mengembangkan vaksin campak pertama berbasis galur yang kemudian dikenal sebagai Edmonston-B. Galur ini, dinamai sesuai nama sang anak, menjadi dasar bagi sebagian besar vaksin hidup yang dilemahkan hingga saat ini.
Setelah serangkaian uji coba pada kelompok kecil anak-anak antara 1958 dan 1960, dilanjutkan dengan uji skala besar di New York dan Nigeria, vaksin campak dinyatakan efektif seratus persen pada 1961. Dua tahun kemudian, vaksin ini resmi mendapat izin untuk digunakan secara publik.
Negara-negara mulai meluncurkan program vaksinasi nasional sejak dekade 1960-an. Di Afrika, program imunisasi campak internasional pertama dimulai pada 1966, ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama pemerintah lebih dari 20 negara Afrika Barat dan Tengah, USAID, serta Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) bekerja sama mendistribusikan vaksin sekaligus memerangi cacar. Pada Mei 1967, Gambia menjadi negara pertama di dunia yang berhasil memutus rantai penularan campak.
Kemajuan berlanjut pada 1968, ketika dr. Maurice Hilleman menyempurnakan vaksin dengan melemahkan virus melalui 40 kali pembiakan di sel embrio ayam. Versi yang lebih aman ini, dikenal sebagai galur Edmonston-Enders, menjadi basis bagi berbagai vaksin campak yang beredar hingga kini.
Hilleman kemudian mengambil langkah lebih jauh pada 1971 dengan menggabungkan vaksin campak, gondongan, dan rubela menjadi satu suntikan tunggal yang dikenal sebagai vaksin MMR. Pada 2005, vaksin cacar air ditambahkan ke dalam formula ini, melahirkan vaksin MMRV yang melindungi terhadap empat penyakit sekaligus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....