Waspadai Bahaya Hirup Lem Bisa Picu Kematian Mendadak
- 10 Jun 2026 13:24 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Praktik penyalahgunaan lem (inhalan) dengan cara menghirup aromanya demi mendapatkan sensasi mabuk atau yang akrab disebut "ngelem," kian marak dan memprihatinkan. Dikutip dari halaman website Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta, aktivitas menyimpang ini umumnya digandrungi oleh remaja, anak-anak, serta anak jalanan. Alasan utamanya adalah karena lem sangat mudah didapatkan di pasaran dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan membeli obat-obatan terlarang atau narkotika jenis lain, sehingga kerap dijadikan alternatif yang salah kaprah.
Aroma menyengat yang memikat pada lem sering kali disalahgunakan oleh individu yang dengan sengaja menghirupnya untuk mencari kesenangan tersendiri. Namun, di balik sensasi instan tersebut, bahaya besar sedang mengintai kesehatan para penikmatnya yang sebagian besar belum menyadari dampak buruknya. Terlalu banyak menghirup zat inhalan ini secara langsung akan memengaruhi sistem saraf pusat serta mengakibatkan perubahan drastis pada cara berpikir dan perilaku para pecandunya.
Secara kasatmata, ciri khas anak atau remaja yang sedang melakukan aktivitas ngelem biasanya dapat dikenali dari gestur mereka yang menutupi wajah dengan pakaian sambil menunduk. Selain itu, terdapat perubahan fisik dan perilaku yang sangat kentara, seperti terlihat depresi, linglung, bermata merah dan berair, hidung memerah, mimisan, hingga mengeluarkan bau napas kimia. Pecandu juga kerap menunjukkan gejala mual, kehilangan nafsu makan, mudah cemas, gelisah, serta gerak-gerik aneh seperti menyembunyikan sesuatu.
Dampak buruk yang dihasilkan dari menghirup lem ini dapat terjadi dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hanya dalam hitungan beberapa detik setelah dihirup, pengguna akan langsung mengalami kemabukan dan efek teler yang menyerupai konsumsi alkohol berlebih. Selama atau setelah menggunakannya, pecandu akan mulai berbicara cadel, merasa pusing, kehilangan kemampuan untuk mengoordinasikan gerakan tubuh, hingga mengalami halusinasi dan khayalan yang tidak realistis.
Jika kebiasaan buruk ini terus dilakukan, aktivitas ngelem dipastikan memicu risiko kerusakan otak yang parah serta gangguan pernapasan yang mematikan. Salah satu ancaman paling fatal dalam jangka pendek adalah terjadinya gagal pernapasan akut. Kondisi mengerikan ini dapat terjadi ketika zat kimia berbahaya yang terkandung di dalam lem merusak kemampuan alami tubuh untuk bernapas, serta menyerang organ paru-paru secara langsung.
Lebih lanjut, situasi gagal pernapasan ini akan mencegah jumlah oksigen yang cukup untuk menjangkau seluruh jaringan tubuh, termasuk organ-organ vital. Dalam kasus yang sudah masuk dalam kategori serius dan kronis, kegagalan fungsi pernapasan akibat mabuk lem ini dapat memicu penurunan kesadaran yang sangat dalam hingga menyebabkan koma. Kurangnya pasokan oksigen ke otak dalam hitungan menit saja sudah cukup untuk memberikan dampak yang sangat fatal bagi kelangsungan hidup seseorang.
Di samping masalah pernapasan, kerusakan permanen lain yang ditimbulkan dari kebiasaan mabuk lem ini ialah kerusakan fatal pada struktur otak. Produk lem pada umumnya mengandung zat kimia berbahaya seperti toluena dan naftalena. Zat-zat beracun ini memiliki kemampuan untuk mengikis dan merusak selubung mielin, yaitu lapisan tipis pelindung yang menyelimuti serabut saraf di otak dan sistem saraf manusia.
Akibat dari kerusakan selubung mielin secara terus-menerus, pecandu akan mengalami gangguan fungsi otak jangka panjang serta masalah neurologis serius yang gejalanya mirip dengan penyakit multiple sclerosis. Tidak berhenti di situ, RSKO Jakarta juga memperingatkan adanya risiko kesehatan fatal lainnya yang mengintai para pengguna inhalan, termasuk serangan kejang-kejang, kerusakan hati, gagal ginjal, tersedak karena muntahan sendiri, hingga gangguan detak jantung tidak teratur atau aritmia yang bisa berujung pada kematian mendadak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....