Cara Membentuk Anak Berpikir Kritis

  • 15 Jul 2026 14:22 WIB
  •  Bengkalis
Poin Utama
  • Cara Membentuk Anak Berpikir Kritis
  • Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan yang paling dibutuhkan anak untuk menghadapi tantangan di masa depan

RRI.CO.ID, Bengkalis – Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan yang paling dibutuhkan anak untuk menghadapi tantangan di masa depan. Namun, kemampuan tersebut tidak terbentuk secara instan di ruang kelas, melainkan dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah ketika orang tua merespons rasa ingin tahu anak.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, mengatakan pola komunikasi antara orang tua dan anak memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kemampuan berpikir kritis. Menurutnya, setiap pertanyaan yang diajukan anak merupakan kesempatan untuk melatih cara berpikir, bukan sekadar mencari jawaban.

"Tujuan pendidikan adalah menghasilkan manusia yang mampu belajar untuk belajar dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan," ujar Stella dalam podcast Query bersama Tirto.id.

Ia menilai masih banyak orang tua yang tanpa sadar mematikan rasa ingin tahu anak dengan memberikan jawaban singkat, seperti "pokoknya begitu" atau "jangan banyak bertanya". Padahal, sikap tersebut dapat membuat anak enggan mengeksplorasi hal-hal baru.

Sebaliknya, Stella mendorong orang tua memberikan penjelasan yang mengajak anak memahami hubungan sebab dan akibat. Misalnya, ketika anak bertanya mengapa harus makan, orang tua dapat mengaitkannya dengan benda yang dekat dengan kehidupan mereka.

"Kalau anak bertanya kenapa harus makan, jangan hanya dijawab 'pokoknya makan'. Jelaskan bahwa tubuh manusia seperti telepon genggam yang harus diisi daya agar bisa berfungsi dengan baik," katanya.

Menurut Stella, cara menjelaskan melalui contoh atau analogi akan membantu anak mengenali pola, memahami konsep, sekaligus mengembangkan kemampuan bernalar.

Selain menjawab pertanyaan, orang tua juga dianjurkan untuk membiasakan anak berdiskusi. Aktivitas sederhana seperti mengajak anak memilih solusi saat menghadapi masalah, meminta pendapatnya, atau mengajak membandingkan dua pilihan dapat melatih kemampuan mengambil keputusan secara logis.

Ia menegaskan bahwa berpikir kritis bukan berarti anak harus selalu mempertanyakan segala sesuatu, tetapi mampu memahami alasan di balik sebuah keputusan, mengevaluasi informasi, dan menemukan solusi secara mandiri.

Stella juga mengingatkan bahwa kemampuan tersebut menjadi semakin penting di era digital ketika anak dibanjiri berbagai informasi dari media sosial maupun internet. Anak yang terbiasa berpikir kritis akan lebih mampu menyaring informasi, membedakan fakta dan opini, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu benar.

Menurutnya, keluarga menjadi lingkungan pertama yang berperan membentuk kebiasaan tersebut sebelum anak memasuki dunia pendidikan formal.

"Biasakan anak bertanya, berdiskusi, dan mencari alasan di balik setiap hal. Dari situlah kemampuan berpikir kritis mulai tumbuh," ujarnya.

Ia berharap orang tua tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi ide, mengemukakan pendapat, dan belajar dari pengalaman. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi perubahan di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....