Taruhan Berisiko Bos SK Group Berbuah Manis, SK Hynix Kini Jadi Raksasa Chip AI

  • 14 Jul 2026 10:50 WIB
  •  Batam

RRI.CO.ID, Batam - Keputusan Chairman SK Group, Chey Tae-won, mengakuisisi produsen chip Hynix yang saat itu mengalami kesulitan keuangan pada 2012 kini dinilai sebagai salah satu langkah bisnis paling sukses di Korea Selatan, mengutip dari Reuters. Saat SK Hynix resmi memulai debutnya di bursa Nasdaq melalui pencatatan saham senilai 26,5 miliar dolar AS, langkah tersebut menjadi bukti keberhasilan strategi yang sebelumnya sempat dipandang penuh risiko.

Ketika diambil alih SK Group, Hynix tengah menghadapi tekanan akibat bisnis semikonduktor yang bersifat sangat fluktuatif, membutuhkan investasi besar, serta masih tertinggal dari Samsung Electronics dalam penguasaan pasar maupun pengembangan teknologi. Bahkan, keputusan akuisisi itu sempat menuai keraguan dari berbagai pihak, termasuk di lingkungan internal grup usaha tersebut.

Di bawah kepemimpinan Chey Tae-won, SK Hynix memilih fokus mengembangkan teknologi high-bandwidth memory (HBM), yang saat itu masih dianggap sebagai pasar khusus dengan prospek yang belum jelas. Namun seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), chip HBM justru menjadi komponen utama yang dibutuhkan untuk akselerator AI, termasuk produk yang digunakan Nvidia. Kondisi tersebut mengantarkan SK Hynix menjadi produsen HBM terbesar di dunia.

Keberhasilan itu turut mengangkat posisi SK Hynix sebagai salah satu perusahaan teknologi paling bernilai di Korea Selatan. Meski Chey Tae-won tidak memiliki saham langsung di SK Hynix, ia mengendalikan perusahaan melalui kepemilikannya di SK Inc., yang merupakan pemegang saham utama SK Square, induk dari SK Hynix. Kekayaan pribadi Chey diperkirakan mencapai sekitar 5,4 miliar dolar AS berdasarkan data Forbes.

Dalam pernyataannya saat peresmian pencatatan saham di Nasdaq, Chey Tae-won mengatakan, "This is a truly historical moment." Pernyataan itu mencerminkan perjalanan panjang perusahaan yang berhasil bangkit dari kondisi sulit hingga menjadi pemain utama dalam industri semikonduktor global.

Di balik kesuksesan bisnis tersebut, perjalanan Chey juga diwarnai berbagai kontroversi. Ia pernah menjalani hukuman penjara lebih dari dua tahun atas kasus penggelapan dana perusahaan sebelum akhirnya memperoleh pengampunan presiden pada 2015. Pemerintah Korea Selatan saat itu menyatakan pengampunan diberikan agar para pemimpin bisnis dapat kembali berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Selain persoalan hukum, kehidupan pribadi Chey juga sempat menjadi sorotan publik setelah secara terbuka mengakui hubungan di luar pernikahan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....