Pustakawan Jadi Garda Depan Lawan Hoaks

  • 07 Jul 2026 18:19 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Di tengah derasnya arus informasi yang beredar melalui media sosial dan platform digital, peran pustakawan kini semakin penting sebagai garda depan dalam meningkatkan literasi informasi masyarakat. Tidak hanya mengelola koleksi buku, pustakawan juga bertugas membimbing masyarakat agar mampu memilah informasi yang benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kepala Bidang Layanan dan Pembinaan Perpustakaan pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Chrismiljanto P.R. Pira, S.S.T.P mengatakan, tantangan terbesar di era digital bukan hanya banyaknya informasi yang tersedia, tetapi kemampuan masyarakat membedakan informasi valid dengan hoaks maupun disinformasi.

"Kita melakukan literasi informasi, yaitu dengan mengecek sumber, mengecek datanya valid atau tidak, kemudian memberikan pemahaman kepada masyarakat. Salah satu caranya adalah mengecek apakah informasi berasal dari sumber yang tepat atau sumber yang benar," ujar Chris dalam Wawancara Kupang Pagi Ini di Pro 1 RRI Kupang, Selasa, 7 Juli 2026.

Menurutnya, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), tidak boleh dipandang sebagai ancaman bagi profesi pustakawan. Sebaliknya, teknologi menjadi sarana yang dapat mempercepat pelayanan informasi sekaligus mendukung proses pengelolaan perpustakaan secara lebih efektif.

"Teknologi atau AI bukan untuk menggantikan pustakawan atau ancaman, tapi justru menjadi sumber peluang. AI bisa membantu menjawab pertanyaan umum, membantu pengelolaan koleksi, tetapi pustakawan tetap memiliki peran penting dalam memberikan informasi yang benar kepada masyarakat," ujarnya.

Chris menegaskan, di tengah banjir informasi digital, masyarakat membutuhkan pendamping yang mampu memberikan rujukan informasi terpercaya. Karena itu, pustakawan tidak hanya dituntut menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan literasi informasi serta etika profesi dalam menyampaikan informasi kepada publik.

"Google bisa kasih satu juta informasi dalam lima detik, tetapi mana yang benar pustakawan tahu. AI bisa salah, tetapi pustakawan punya etika profesi untuk memberikan informasi yang netral," katanya.

Selain meningkatkan kemampuan literasi informasi, Perpustakaan Provinsi NTT, menurut Chris, terus mengembangkan berbagai layanan untuk mendukung masyarakat memperoleh informasi berkualitas. Fasilitas seperti internet gratis, kelas literasi digital, ruang komunitas, hingga berbagai pelatihan disiapkan agar perpustakaan menjadi ruang belajar yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Melalui momentum Hari Pustakawan Nasional 2026, Chris mengajak masyarakat memanfaatkan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sekaligus ruang membangun budaya literasi. Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat mencari informasi yang kredibel di tengah derasnya arus informasi digital.

"Saya mengajak semua masyarakat datang ke perpustakaan. Kami memberi ruang seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berdiskusi, bedah buku, dan kegiatan literasi lainnya secara gratis," ujarnya, mengakhiri. (DB)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....