Rektor UIN Sunan Kalijaga Jadi Presiden AIUA, Pimpin Jejaring Kampus Islam Asia

  • 26 Jun 2026 18:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Noorhaidi Hasan, terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Asian Islamic Universities Association (AIUA) periode 2026–2028. Pemilihan berlangsung dalam 15th Annual General Meeting AIUA yang digelar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 23–25 Juni 2026.

Terpilihnya Prof. Noorhaidi menandai kepercayaan dunia pendidikan tinggi Islam di Asia kepada Indonesia. AIUA merupakan jejaring yang beranggotakan sekitar 90 perguruan tinggi Islam dari berbagai negara di Asia, yang berperan dalam memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, riset, serta pertukaran sivitas akademika.

Kepercayaan tersebut juga menjadi pengakuan atas rekam jejak Prof. Noorhaidi di bidang akademik maupun kepemimpinan. Dalam dunia akademik internasional, ia dikenal sebagai akademisi yang aktif dalam kajian Islam kontemporer dan masuk dalam daftar dua persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia berdasarkan dampak publikasi dan sitasi ilmiah.

Latar belakang akademiknya ditempa melalui pendidikan magister dan doktor di Belanda. Pengalaman tersebut turut membangun jejaring internasional yang selama ini menjadi salah satu kekuatannya dalam mengembangkan kolaborasi lintas negara.

Sebelum menjabat Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi pernah mengemban sejumlah posisi strategis, antara lain Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga, Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, serta Dekan Fakultas Islamic Studies Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Dalam kepemimpinannya di AIUA, Prof. Noorhaidi akan melanjutkan estafet dari Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, yang menjabat Presiden AIUA periode 2024–2026. Pergantian ini sekaligus menunjukkan peran aktif perguruan tinggi Islam Indonesia dalam mendorong pengembangan pendidikan tinggi Islam di kawasan Asia.

Rangkaian kegiatan AIUA 2026 diawali dengan seminar internasional bertema "Transforming Islamic Higher Education for Advancing Global Peace, Resilience, and Inclusive Development". Seminar tersebut menghadirkan mantan Wakil Presiden RI, Muhammad Jusuf Kalla, bersama para akademisi dan pimpinan perguruan tinggi Islam dari berbagai negara untuk membahas transformasi pendidikan tinggi Islam, penguatan riset, inovasi kurikulum, hingga kontribusi universitas dalam mewujudkan perdamaian dan pembangunan yang inklusif.

Dalam pidato perdananya sebagai Presiden AIUA, Prof. Noorhaidi menegaskan komitmennya untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi Islam melalui kolaborasi antar kampus di Asia.

"Pertemuan ini akan menjadi platform untuk meningkatkan kualitas riset dan pengakuan internasional. Dengan 90 anggota di seluruh Asia, AIUA memiliki potensi besar melahirkan riset unggul dan lulusan berakhlak yang siap berkontribusi bagi peradaban," ujarnya.

Ia mengatakan, kepemimpinannya akan difokuskan pada penguatan riset kolaboratif, peningkatan mobilitas dosen dan mahasiswa, pengembangan publikasi ilmiah bersama, serta perluasan pengakuan internasional bagi perguruan tinggi Islam di Asia.

Prof. Noorhaidi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh anggota AIUA, khususnya Sekretariat Jenderal AIUA yang berkedudukan di Universiti Sultan Azlan Shah (USAS), Malaysia, atas dukungan yang selama ini diberikan dalam mengembangkan organisasi.

"Terima kasih kepada seluruh anggota, terutama Sekretariat Jenderal di USAS Malaysia yang telah menjadi tulang punggung organisasi. AIUA dapat berkembang hingga saat ini berkat kerja sama dan komitmen bersama," katanya.

Pertemuan AIUA 2026 menghasilkan sejumlah kesepakatan, di antaranya memperkuat kolaborasi lintas negara, meningkatkan kualitas riset bersama, serta memperluas pengakuan internasional perguruan tinggi Islam sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan global.

Bagi UIN Sunan Kalijaga, terpilihnya Prof. Noorhaidi sebagai Presiden AIUA menjadi pencapaian penting yang memperkuat posisi universitas dalam jejaring pendidikan tinggi Islam internasional sekaligus menegaskan kontribusi Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi Islam di kawasan Asia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....