Meta Glasses, Kacamata Berbasis AI disebut Pengganti Ponsel Pintar
- 24 Jun 2026 10:08 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Upaya Meta untuk memperluas adopsi AI adalah dengan meluncurkan Meta Glasses, kacamata pintar yang dirancang untuk membantu pengguna berinteraksi dengan dunia digital tanpa harus terus-menerus memegang ponsel. Sehingga akan membuat perkembangan AI akan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Meta Glasses merupakan perangkat wearable technology yang dikembangkan oleh Meta, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, bekerja sama dengan EssilorLuxottica, perusahaan induk Ray-Ban. Produk ini memadukan desain kacamata sehari-hari dengan teknologi AI di dalamnya.
Kacamata pintar ini dilengkapi dengan kamera, mikrofon, speaker terbuka (open-ear audio), serta asisten AI yang dapat diaktifkan melalui perintah suara. Pengguna dapat mengambil foto, merekam video, mendengarkan musik, menerima panggilan telepon, hingga bertanya kepada AI secara langsung tanpa harus membuka ponsel.
Meta terus mengembangkan teknologi dalam kacamata AI yang lebih terjangkau dengan harga mulai dari 299 dolar Amerika Serikat, sebagai upaya memperluas penggunaan perangkat AI yang dapat dipakai sehari-hari.
Dikutip dari Busnisess Insider, CEO Meta, Mark Zuckerberg, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam mengembangkan kacamata pintar adalah menciptakan keseimbangan antara teknologi, kenyamanan, dan desain agar orang merasa nyaman memakainya dalam aktivitas sehari-hari.
Namun, di balik kecanggihannya, Meta Glasses juga memunculkan perhatian terkait privasi. Karena memiliki kamera dan kemampuan merekam secara langsung, sejumlah pakar teknologi mengingatkan pentingnya penggunaan yang bertanggung jawab agar tidak melanggar privasi orang lain. Pengguna juga disarankan untuk memahami aturan penggunaan di ruang publik, terutama ketika mengambil gambar atau merekam video.
Di Indonesia sendiri, tren perangkat berbasis AI diperkirakan akan terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap teknologi yang praktis dan terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa teknologi sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti interaksi sosial dan aktivitas di dunia nyata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....