Dukung SDGs 12, Unnes Gelar Jajak Pendapat Aspek Sosial Humaniora Industri Tempe

  • 08 Jun 2026 16:55 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam rangka Hari Tempe setiap tanggal6 Juni, menggelar kegiatan jajak pendapat mengenai aspek sosial dan humaniora industri tempe berkelanjutan di Wisma Lansia Husnul Khatimah Gunungpati, Minggu, 7 Juni 2026. Jajak pendapat itu sebagai bagian dari upaya mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, dalam mendukung UNNES, Bergerak Berdampak.

Ketua Tim Pengabdian Unnes, Prof Dr Siti Harnina Bintari, MS mengatakan, jajak pendapat ini merupakan realisasi dari kegiatan pengabdian. Kali ini tema yang diangkat tentang Pemberdayaan Masyarakat Industri Tempe pada Kelompok Usaha Bersama Olahan Kedelai Guna Mewujudkan Ekonomi Sirkular yang Sehat, Produktif, dan Berkelanjutan.

Menurut dia, jajak pendapat ini terkait delapan aspek yang masuk kriteria sosial dan humaniora, di antaranya pengetahuan, keterampilan, dan penerimaan tentang tempe. Selain itu juga industri tempe semestinya punya kenyamanan dan keamanan bagi orang sekitarnya, sampai berbadan hukum, misalnya punya Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan Nomor Induk Berusaha (NIB).

"Jajak pendapat ini bagian dari implementasi ekonomi sirkular dari industri tempe berkelanjutan. Hal tersebut menggambarkan kegiatan tanggung jawab di bidang ekonomi dan keamanan pangan, jadi industri tempe ini harus memenuhi syarat higienitas dan sanitasinya," kata Harnina yang juga peneliti Rumah Inovasi Tempe (RIT) Sekar Sari di Gunungpati, Semarang.

Kegiatan yang dihadiri Ketua Pimpinan Daerah (PD) Aisyiah Kota Semarang Aminah Kurniasih SPd., MPd. Yg berharap usaha tempe dapat dilakukan di tingkat ranting. ini diikuti 33 peserta, termasuk mahasiswa Unnes. Sebelum mengisi kuisioner, peserta pelatihan yang terdiri atas ibu-ibu Pimpinan Cabang Aisyiah (PCA) Gunungpati 1, dan santriwati pondok pesantren ini juga dilatih cara pembuatan tempe, termasuk pengemasannya yang menarik.

Harnina menjelaskan, peserta jajak pendapat juga dikenalkan inovasi tempe yang difortifikasi dengan menggunakan tepung bawang putih dan kelor. "Tepung bawang putih dan tepung kelor itu hanya satu persen yang dimasukkan beserta pemberian ragi tempenya," ujar Guru Besar Ilmu Bioteknologi Fakultas MIPA Unnes tersebut.

Adapun, kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dalam tiga tahap, salah satunya di Kelurahan Sumurejo, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Di lokasi tersebut akan ikut dilibatkan perajin tempe dan pelaku usaha olahan kedelai.

Anggota tim Pengabdian Unnes, Dra Ely Rudyatmi MSi mengatakan, pengisian kuisioner ini untuk mengetahui bagaimana sikap masyarakat terhadap tempe, keterampilan peningkatan kesehatan. Termasuk juga kualitas pelayanan dan keberhasilan industri tempe jadi lembaga berbadan hukum, serta bagaimana keamanan dan kenyamanan masyarakat dengan tempe ini.

"Melalui angket ini, kami bisa mengetahui tren seseorang terhadap tempe, seperti bagaimana pengetahuannya. Selain itu juga bagaimana pemahaman mereka terhadap aspek kesehatan dalam pengolahan industri tempe, termasuk pemanfaatannya di lingkungan keluarga," tandasnya.

Kegiatan pengabdian ini didukung pendanaan dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DPA) Unnes Tahun 2026. Selain Harnina dan Ely, anggota tim pengabdian Unnes lainnya, Prof. Dr.Saiful Ridlo, Prof. Dr Wiwi Isnaeni, Dra. Eko Farida STP MSi.dan Dra.Endah Peniati. M.Si.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....