Strategi Kolaborasi Gen Z dan Senior Menang di Era AI
- 29 Apr 2026 11:34 WIB
- Jakarta
RR.CO.ID, Jakarta - Strategi kolaborasi antara Gen Z dan profesional senior menjadi kunci menghadapi persaingan di era kecerdasan buatan. Pendekatan ini dinilai mampu membantu perusahaan memenangkan tantangan dunia kerja yang terus berubah.
Di tengah percepatan adopsi AI, sejumlah perusahaan mulai menggeser fokus rekrutmen ke tenaga kerja yang lebih senior karena dianggap memiliki pengalaman dan kebijaksanaan lebih matang. Sementara itu, generasi muda menghadapi kekhawatiran tertinggal dalam persaingan dunia kerja.
Dalam podcast Power Talks oleh Jobstreet by SEEK, Chief People Officer tiket.com, Dudi Arisandi, menegaskan bahwa masa depan dunia kerja tidak ditentukan oleh satu generasi saja, melainkan kombinasi antara energi Gen Z dan pengalaman profesional senior.
Ia menilai bahwa tantangan utama saat ini bukan pada jumlah tenaga kerja, melainkan kesenjangan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. “Bagi saya, kuncinya bukan memilih antara talenta muda atau senior, tapi bagaimana HR dan leaders menggabungkan energi Gen Z dengan kebijaksanaan generasi sebelumnya,” ujar Dudi, Selasa (28 April 2026).
Menurutnya, perusahaan yang progresif mulai meninggalkan pendekatan rekrutmen berbasis usia atau almamater, dan beralih pada seleksi berbasis kemampuan nyata. Ia menekankan bahwa kemampuan (skill) harus menjadi dasar utama dalam proses rekrutmen agar perusahaan tidak kehilangan talenta potensial dari berbagai latar belakang.
Selain itu, Dudi mengingatkan agar perusahaan tidak lagi menyalahkan Gen Z atas berbagai stereotip negatif yang berkembang di dunia kerja. Ia menilai bahwa generasi muda justru membutuhkan pendampingan dan pembinaan yang terstruktur, terutama dalam penguatan soft skill.
“Stop blaming, start helping. Gen Z itu high-potential yang butuh coaching, bukan untuk disalahkan,” tegasnya.
Dudi juga mendorong penerapan reverse mentoring, di mana profesional senior dan Gen Z saling bertukar pengetahuan dan keterampilan sesuai keunggulan masing-masing. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa di era AI, kemampuan teknis semata tidak lagi cukup karena banyak pekerjaan sudah bisa diotomatisasi.
Untuk itu, ia memperkenalkan kerangka strategi “5B” yang mencakup build, buy, borrow, bridging, dan bot sebagai pendekatan membangun tenaga kerja yang adaptif dan berkelanjutan. “Kalau kita serius membangun kompetensi dan kolaborasi lintas generasi, perusahaan di Indonesia bukan hanya bertahan, tapi bisa naik kelas di era AI,” pungkas Dudi Arisandi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....