Cara Silvia Menanam Benih Kesadaran Sehat Petani Agam
- 22 Apr 2026 06:04 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Di hamparan ladang hijau yang memeluk kaki Gunung Singgalang dan Marapi, para perempuan tani adalah tulang punggung kehidupan.
Namun, di balik ketangguhan mereka mengolah tanah di Kabupaten Agam, terselip sebuah ancaman "sunyi" yang kerap terabaikan: paparan pestisida. Sebuah kebiasaan lama yang menempatkan kenyamanan diatas keselamatan, kini mulai digugat oleh sebuah inovasi berbasis empati.
Adalah Silvia.,M.BioMed seorang peneliti yang tengah menempuh program doktor Ilmu Lingkungan di Universitas Negeri Padang (UNP), yang menangkap kegelisahan ini.
Melalui riset disertasinya dengan promotor Prof. Nurhansan Syah, dan Dr. dr. Elsa Yuniarti, Silvia menyadari bahwa sekadar memberi teori tentang bahaya kimia tidaklah cukup. Ia membawa sebuah misi perubahan melalui model yang ia beri nama SILViE—Strategi Inklusi Lingkungan Via Ekofeminisme.
| Baca juga: Pertolongan Pertama jika Disengat Tawon |
Dalam sebuah pertemuan hangat di Aula Kantor Camat Banuhampu pada medio April lalu, Silvia berhadapan langsung dengan para ibu dari Kelompok Wanita Tani (KWT). Hasil pre-test menunjukkan realita yang jujur: banyak petani wanita enggan memakai Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.
Alasannya manusiawi, yakni merasa gerah dan tidak leluasa bergerak. "Sudah biasa begini," menjadi kalimat penutup yang sulit didebat selama bertahun-tahun.
Di sinilah kecakapan Silvia sebagai peneliti diuji. Menggunakan pendekatan Health Belief Model, ia tidak datang untuk menggurui, melainkan untuk mengubah persepsi.
Silvia mengajak para ibu tani ini untuk memahami bahwa ancaman pestisida tidak datang seperti serangan jantung yang mendadak, melainkan akumulasi zat berbahaya yang masuk lewat pori-pori kulit dan embusan napas.
Risiko ini kian nyata saat mereka menyentuh makanan tanpa membersihkan diri secara maksimal setelah terpapar bahan kimia.
Bagi Silvia, perempuan bukan sekadar pelengkap dalam rantai pertanian. Melalui kacamata ekofeminisme,
ia memposisikan perempuan sebagai garda terdepan yang menjaga kelestarian lingkungan sekaligus kesehatan inti keluarga. Jika sang ibu sehat, maka satu generasi terselamatkan.
Langkah Silvia ini mendapat dukungan penuh dari Camat Banuhampu Susi Karmila, AS, SH. Kehadiran jajaran penyuluh pertanian dari Nagari Sariak pun mempertegas bahwa edukasi ini harus menjadi gerakan massal, bukan sekadar tugas akademik di atas kertas.
Silvia menekankan bahwa perubahan perilaku adalah lari maraton, bukan lari cepat. Dibutuhkan sinergi lintas sektor—mulai dari peran akademisi seperti dirinya yang turun ke akar rumput, hingga dinas kesehatan yang memperkuat program preventif.
Melalui pelatihan SILViE, Silvia, M.BioMed. tidak hanya sedang menyelesaikan sebuah tugas akhir doktoral.
"Saya sedang menanam benih kesadaran. Ia ingin setiap perempuan tani di Agam pulang ke rumah bukan hanya membawa hasil panen yang melimpah, tetapi juga membawa tubuh yang sehat untuk memeluk masa depan keluarga sekalipun,"ungkap Dosen Universitas Fort de Kock, Bukittinggi itu.
Model Pelatihan SILVIE adalah buah bukti bahwa sains, jika diramu dengan pendekatan yang tepat, mampu mengubah kebiasaan yang paling bebal sekalipun.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....