Cicilia Ndaomanu Raih Juara Satu LKTI 2026 FH Undana angkat Isu MBG

  • 09 Apr 2026 18:14 WIB
  •  Kupang
Poin Utama
  • Cicilia menilai isu MBG menjadi relevan dan penting untuk dikaji secara kritis, terutama dalam melihat keterkaitan antara kebijakan publik dan dinamika politik.
  • Cicilia melihat bahwa jika tujuan utama MBG adalah meningkatkan kualitas gizi anak, maka program ini harus benar-benar dirancang secara matang, tidak hanya dari sisi politik, tetapi juga dari aspek teknis, distribusi, hingga pengawasan.
  • Dari segi metodologi berpikir, tulisan Sisil mencerminkan kemampuan analisis yang sistematis meskipun disusun dalam waktu yang sangat singkat.

RRI.CO.ID, Kupang – Makanan Bergizi Gratis (MBG) menjadi topik dari tulisan karya ilmiah mahasiswi Fakultas Hukum Undana, Cicilia Ndaomanu yang berhasil meraih juara 1 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) 2026 yang diselenggarakan oleh pihak kampus. Prestasinya menjadi peningkatan signifikan bagi mahasiswi asal Rote tersebut, setelah sebelumnya ia menduduki posisi juara kedua pada ajang serupa di tahun 2025.

Ia menilai isu MBG menjadi relevan dan penting untuk dikaji secara kritis, terutama dalam melihat keterkaitan antara kebijakan publik dan dinamika politik. Keberhasilan Cicilia tidak hanya ditentukan oleh isi tulisan, tetapi juga strategi presentasi yang efektif dan tepat waktu.

"Cicil melihatnya dari bagaimana perkembangan politik untuk dapat menghadirkan MBG itu sendiri, apakah hadir untuk memenuhi kapasitas gizi anak-anak atau hanya sekadar hadir karena perkembangan politik di era kampanye," ucap Sisil saat berbincang pada Rabu, 8 April 2026 dalam siaran Tamu Malam di RRI Pro 2Kupang.

Ia mampu menyampaikan gagasannya secara ringkas melalui lima slide presentasi yang padat namun mudah dipahami oleh dewan juri dan audiens. Dalam konteks ini, Cicilia mencoba memposisikan MBG bukan sekadar program sosial, melainkan sebagai produk kebijakan yang lahir dari proses politik yang kompleks dan penuh kepentingan.

Pendekatan yang digunakan Cicilia cenderung normatif-kritis, di mana ia mempertanyakan motif dasar dari hadirnya MBG. Mahasiswi semester 6 Fakultas Hukum ini mengajukan pertanyaan kunci: apakah program ini benar-benar berangkat dari kebutuhan riil masyarakat, khususnya anak-anak dalam pemenuhan gizi, ataukah merupakan bagian dari strategi politik yang muncul dalam momentum tertentu seperti kampanye.

Pertanyaan ini menjadi kekuatan utama tulisannya karena membuka ruang diskusi yang lebih luas, tidak hanya pada manfaat program, tetapi juga legitimasi dan urgensinya. Dari sisi analisis, Cicilia mengaitkan MBG dengan perkembangan kebijakan fiskal seperti alokasi anggaran negara (APBN dan APBD).

Ia menyoroti bagaimana peningkatan anggaran yang signifikan menjadi indikator keseriusan pemerintah, tetapi sekaligus juga menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas dan distribusinya. Di sini, tulisannya tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga evaluatif, karena berusaha melihat apakah besarnya anggaran benar-benar sebanding dengan dampak yang dihasilkan di lapangan.

Hal yang cukup kuat dalam tulisan ini adalah keberanian Cicilia untuk menampilkan sisi kontradiktif dari implementasi MBG. Ia mengangkat contoh kasus di beberapa daerah, termasuk wilayah NTT, yang justru menunjukkan adanya masalah seperti keracunan makanan.

Ini menjadi bukti bahwa kebijakan yang secara konsep baik belum tentu berjalan optimal dalam praktik. Dengan demikian, Sisil berhasil menunjukkan adanya gap antara perencanaan kebijakan dan implementasinya.

Selain itu, tulisan ini juga menempatkan MBG dalam kerangka besar pembangunan sumber daya manusia, khususnya dalam menyongsong generasi emas Indonesia. Cicilia melihat bahwa jika tujuan utama MBG adalah meningkatkan kualitas gizi anak, maka program ini harus benar-benar dirancang secara matang, tidak hanya dari sisi politik, tetapi juga dari aspek teknis, distribusi, hingga pengawasan.

Ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan perspektif konstruktif. Dari segi metodologi berpikir, tulisan Sisil mencerminkan kemampuan analisis yang sistematis meskipun disusun dalam waktu yang sangat singkat.

Ia mampu menyederhanakan isu kompleks menjadi argumen yang terstruktur dan mudah dipahami, terutama melalui strategi presentasi yang ringkas namun padat. Hal ini menjadi nilai tambah yang diakui oleh dewan juri, karena tidak semua peserta mampu mengelaborasikan ide secara efektif dalam waktu terbatas.

Kemenangan Cicilia tergolong luar biasa mengingat persiapan yang dilakukan sangat singkat, yakni hanya satu hari sebelum batas waktu pengumpulan (H-1). Cicilia mampu menyederhanakan materi yang kompleks menjadi presentasi ringkas namun padat makna, sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh para juri dan audiens.

"Pelajaran menariknya adalah gas terus, jangan terbawa pikiran karena ini H-1 pasti kalah; intinya disubmit dulu, kalau keterima ya puji Tuhan, kalau tidak ya next level lagi," tegas mahasiswi yang juga hobi menulis cerita rakyat ini.

Melalui pencapaian ini, Cicilia berharap tulisannya dapat menjadi referensi dan acuan bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya dalam mengembangkan riset-riset hukum yang relevan. Ia berpesan kepada generasi muda di Kota Kupang agar tidak ragu untuk mencari ruang bertumbuh di luar lingkungan kampus dan terus berani mencoba meski pernah mengalami kegagalan. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....