Dosen ITS Ciptakan Bensin Sawit Ramah Lingkungan
- 07 Apr 2026 20:05 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Isu krisis energi dan tuntutan transisi hijau mendorong lahirnya inovasi alternatif. Dosen ITS, Dr Eng Hosta Ardhyananta, mengembangkan bahan bakar sawit rendah emisi.
Situasi geopolitik global memicu krisis bahan bakar minyak di berbagai negara. Rektor ITS, Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD, menyebut inovasi Benwit dapat mengurangi ketergantungan energi fosil.
“Ini kesempatan bagi pemerintah mengembangkan energi alternatif di tengah krisis bahan bakar global,” ujar Bambang, Selasa, 7 April 2026. Ia menilai konflik Timur Tengah memperkuat urgensi inovasi energi nasional.
Hosta menjelaskan fokus penelitian pada pengurangan residu produksi bahan bakar. “Fokus kami mengonversi minyak sawit menjadi biogasoline siap pakai,” katanya.
| Baca juga: QS WUR 2027, ITS Naik ke Peringkat 497 Dunia |
Tim ITS menggunakan metode catalytic cracking untuk memecah molekul besar. Proses awal memakai katalis alumina dengan suhu hingga 420 derajat Celsius.
Metode ini menghasilkan konversi biogasoline sekitar 60 persen. Namun, kebutuhan suhu tinggi menjadi tantangan efisiensi produksi.
Pengembangan lanjutan memakai katalis bimetalik NiO dan CuO. Kombinasi ini menurunkan suhu menjadi 380 derajat dan meningkatkan hasil 83 persen.
Produk bensin nabati didominasi hidrokarbon rantai pendek C5 hingga C11. Sebagian gas hasil samping dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar reaktor.
Residu cair menyerupai minyak dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif. “Residu cair bisa digunakan sebagai bahan bakar kompor,” ujar Hosta.
Penelitian ini juga mempertimbangkan life cycle assessment dalam prinsip berkelanjutan. Hasilnya menunjukkan jejak karbon produksi biogasoline sangat rendah.
Sistem produksi zero emission mendukung target Sustainable Development Goals. Fokusnya pada energi bersih dan konsumsi produksi bertanggung jawab.
Hosta menegaskan inovasi ini untuk kemandirian teknologi Indonesia. Teknologi telah diuji pada mesin pertanian yang fleksibel terhadap bahan bakar alternatif.
“Petani tidak lagi bergantung pada bensin berbasis minyak bumi,” ucap Hosta. Hal ini dinilai membantu menghadapi harga bahan bakar yang fluktuatif.
Kemandirian produksi bensin diyakini dapat menekan harga bagi masyarakat. Saat ini industri migas nasional masih bergantung pada teknologi luar negeri.
Hosta berharap inovasi ini dapat dikembangkan dalam skala produksi lebih besar. Langkah ini diharapkan menjawab ancaman krisis energi nasional.
“Minimal inovasi ini mengurangi ketergantungan ekspor impor energi," kata Fadlilatul. ITS akan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk uji coba nasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....