Studi: Penggunaan AI Berlebihan, Kurangi Ide Kreatif Manusia
- 26 Mar 2026 13:00 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang-Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memudahkan manusia dalam berbagai pekerjaan, mulai dari menulis hingga mencari ide kreatif. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan chatbot AI secara berlebihan justru berpotensi mempersempit kreativitas manusia.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Engineering Applications of Artificial Intelligence, seperti yang dikutip digitaltrends, Rabu, 25 Maret 2026, menemukan bahwa sejumlah model AI populer, diantaranya, Gemini, GPT, dan Llama cenderung menghasilkan pola ide yang mirip ketika diminta melakukan tugas kreatif. Secara individu, jawaban yang dihasilkan memang terlihat orisinal dan berguna, namun ketika dianalisis secara keseluruhan, banyak respons AI yang ternyata memiliki kesamaan pola.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan membandingkan respons manusia dengan berbagai model AI melalui serangkaian tes kreativitas standar. Peserta diminta untuk memikirkan kegunaan baru dari benda sehari-hari atau menyebutkan kata-kata yang tidak berkaitan satu sama lain, hasilnya menunjukkan bahwa secara individu AI mampu memberikan ide yang cukup kreatif, bahkan kadang melampaui jawaban rata-rata manusia.
Namun ketika dibandingkan secara kelompok, ide-ide dari AI jauh lebih terbatas. Respons yang dihasilkan cenderung berkumpul dalam pola konsep yang sama, sementara jawaban manusia menyebar lebih luas dan beragam.
Penelitian ini tidak hanya menguji satu sistem AI saja. Tim peneliti melibatkan lebih dari 20 model AI dari berbagai perusahaan teknologi dan membandingkannya dengan lebih dari 100 peserta manusia, dan hasilnya tetap konsisten: jawaban AI memiliki rentang variasi yang lebih sempit meskipun berasal dari model yang berbeda.
Ketika respons dipetakan berdasarkan tingkat kesamaannya, jawaban chatbot terlihat berkumpul rapat dalam satu kelompok ide, sementara respons manusia menyebar di berbagai arah. Pola ini muncul dalam berbagai jenis tugas kreatif, baik saat menghasilkan ide baru maupun saat diminta memikirkan konsep yang tidak berkaitan.
| Baca juga: Bijak Memanfaatkan Teknologi Selama Ramadhan |
Para peneliti juga mencoba meningkatkan variasi jawaban AI dengan menambah tingkat keacakan dalam sistem. Cara ini memang sedikit meningkatkan variasi ide, namun di sisi lain justru membuat jawaban menjadi kurang koheren atau sulit dipahami.
Menurut peneliti, keterbatasan ini muncul karena AI tidak memiliki pengalaman hidup, niat, atau konteks pribadi seperti manusia. Tanpa pengalaman tersebut, kemampuan AI untuk menghasilkan ide yang benar-benar berbeda menjadi terbatas.
Selain itu, ada faktor perilaku pengguna, dimana sejumlah studi menunjukkan bahwa manusia cenderung terlalu mengandalkan saran dari AI, akibatnya, pengguna sering berhenti mengembangkan ide mereka sendiri dan hanya mengikuti pola yang diberikan oleh sistem. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi membuat berbagai ide yang muncul di masyarakat menjadi semakin seragam, terutama jika banyak orang menggunakan alat AI yang sama untuk menulis, merancang, atau bertukar pikiran.
Karena itu, para peneliti menyarankan agar AI digunakan sebagai alat bantu atau titik awal dalam proses kreatif, bukan sebagai hasil akhir. Ide dari AI sebaiknya dijadikan pemicu untuk mengembangkan pemikiran yang lebih luas, bukan sekadar diikuti begitu saja. (JR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....