Banjir Topan Tewaskan Satwa Kebun Binatang China, Ratusan Menghilang
- 11 Jul 2026 09:18 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam - Bencana banjir akibat Topan Maysak menimbulkan tragedi di sebuah kebun binatang di Kota Guigang, Guangxi, China. Saat air bah terus meningkat, pengelola memutuskan mengunci kandang hewan-hewan buas seperti singa, beruang, dan serigala untuk mencegah mereka melarikan diri. Namun, keputusan tersebut berujung pada kematian sejumlah satwa dan menuai kritik dari organisasi perlindungan hewan internasional.
Laporan media setempat menyebutkan ketinggian air di area kebun binatang mencapai lebih dari dua meter. Akibatnya, tiga ekor singa dilaporkan mati tenggelam, sementara lebih dari 100 ekor satwa lainnya hilang terbawa arus banjir. Hewan-hewan yang dilaporkan hilang antara lain zebra, kuda poni mini, burung unta, alpaka, rakun, hingga burung merak. Pengelola bahkan meminta bantuan masyarakat melalui media sosial untuk menemukan satwa-satwa tersebut.
Pemilik Kebun Binatang Guigang menyatakan keputusan mengunci kandang dilakukan demi mencegah hewan berbahaya lepas ke permukiman warga. Menurutnya, jika singa, beruang, atau serigala berhasil keluar saat banjir, situasi darurat dapat menjadi semakin berbahaya bagi masyarakat. Meski demikian, langkah tersebut memicu perdebatan karena dianggap mengorbankan keselamatan satwa yang tidak memiliki kesempatan menyelamatkan diri.
Organisasi People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai keputusan yang tidak dapat dibenarkan. Presiden PETA Asia, Jason Baker, menegaskan bahwa membiarkan satwa liar terkurung ketika air banjir terus naik merupakan tindakan yang tidak manusiawi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa melepas satwa liar begitu saja saat bencana juga berisiko membahayakan manusia maupun hewan itu sendiri. Karena itu, PETA menyerukan agar setiap kebun binatang memiliki rencana evakuasi khusus menghadapi cuaca ekstrem.
Tragedi tidak hanya terjadi di kebun binatang. Di Kota Hengzhou yang juga berada di Guangxi, banjir menghancurkan sebuah peternakan ular sehingga ratusan ular, termasuk kobra, king rat snake, dan ular air, lepas ke wilayah yang tergenang banjir. Media pemerintah China melaporkan seorang perempuan meninggal dunia setelah digigit ular yang diduga berasal dari kawasan terdampak banjir tersebut.
Topan Maysak sendiri telah menyebabkan sedikitnya 39 orang meninggal dunia di wilayah selatan China. Hujan deras memicu banjir besar, merusak bendungan, meluapkan waduk, serta menggenangi permukiman dan infrastruktur di sejumlah kota. Pemerintah setempat terus melakukan evakuasi warga dan mempercepat distribusi bantuan bagi daerah yang terdampak paling parah.
Ancaman bencana diperkirakan belum berakhir. Otoritas meteorologi China memperingatkan bahwa Topan Bavi, yang diprediksi memiliki kekuatan lebih besar, diperkirakan akan mendarat di wilayah tenggara China pada 11 Juli. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, termasuk perlunya prosedur penyelamatan yang lebih baik bagi satwa liar di kebun binatang maupun fasilitas penangkaran agar keselamatan manusia dan hewan dapat sama-sama terjaga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....