IOM Desak Penguatan Koordinasi Lintas Batas untuk Kendalikan Wabah Ebola
- 03 Jun 2026 14:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IOM mendesak penguatan koordinasi lintas batas antara pemerintah dan mitra internasional untuk mengendalikan wabah Ebola yang terus berkembang di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda.
- Penutupan perbatasan dinilai tidak cukup untuk menghentikan penyebaran virus, karena dapat mendorong masyarakat menggunakan jalur tidak resmi yang lebih sulit dipantau dan berpotensi meningkatkan risiko penularan.
- Kasus Ebola di DRC telah melampaui 300 kasus dengan 48 kematian, sementara Uganda mencatat 15 kasus dan satu kematian, sehingga IOM menekankan pentingnya pengawasan mobilitas, pelacakan kontak, dan kerja sama lintas negara.
RRI.CO.ID, Jenewa — Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mendesak pemerintah untuk memperkuat koordinasi lintas batas guna mengendalikan wabah Ebola yang sedang berlangsung. Seruan tersebut juga ditujukan kepada mitra internasional di tengah penyebaran penyakit di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda.
Seruan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya jumlah kasus dan kekhawatiran terhadap penyebaran penyakit di kawasan Afrika Tengah dan Timur. Dalam pernyataannya, Selasa, 2 Juni 2026, IOM memperingatkan bahwa penutupan perbatasan saja tidak cukup untuk menghentikan penyebaran virus.
Badan PBB tersebut menilai kebijakan itu dapat mendorong masyarakat menggunakan jalur-jalur tidak resmi untuk bepergian. Jalur yang lebih sulit dipantau tersebut berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit.
Melansir dari Anadolu, data terbaru menunjukkan jumlah kasus Ebola yang terkonfirmasi di DRC telah melampaui 300 kasus. Sementara itu, jumlah korban meninggal akibat wabah tersebut mencapai 48 orang.
Di Uganda, otoritas kesehatan melaporkan 15 kasus Ebola yang telah terkonfirmasi. Hingga saat ini, satu orang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi virus tersebut.
Wakil Direktur Jenderal Operasi IOM, Ugochi Daniels, menegaskan bahwa wabah penyakit menular tidak mengenal batas negara. Menurutnya, respons untuk mengatasi wabah juga harus dilakukan melalui kerja sama lintas batas yang kuat dan terkoordinasi.
Daniels mengatakan masyarakat tetap akan melakukan perjalanan meskipun perbatasan ditutup. Ia menilai pendekatan efektif adalah memastikan mobilitas penduduk tetap dapat dipantau, aman, dan berada dalam pengawasan kesehatan yang memadai.
Namun, IOM memperingatkan bahwa penutupan perbatasan yang bersifat reaktif dapat mengurangi visibilitas terhadap pergerakan penduduk. Kondisi tersebut berisiko menghambat pemeriksaan kesehatan, pengawasan epidemiologi, pelacakan kontak, serta upaya deteksi dini kasus baru.
Berdasarkan data pemantauan arus pergerakan yang dimiliki IOM, mobilitas lintas batas tetap berlangsung meskipun berbagai pembatasan telah diberlakukan. Banyak perjalanan dilakukan melalui jalur informal yang lebih sulit diawasi oleh otoritas kesehatan dan keamanan.
IOM menegaskan bahwa pengalaman dari berbagai darurat kesehatan sebelumnya menunjukkan pembatasan pergerakan tidak menghentikan mobilitas masyarakat. Sebaliknya, kebijakan tersebut sering kali hanya mengalihkan perjalanan ke rute yang kurang terpantau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....