Peran Indonesia dalam Misi Perdamaian, Pakar UMY Tekankan Multilateralisme
- 06 Apr 2026 12:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pakar tekankan multilateralism sebagai langkah strategis bagi Indonesia dalam konflik yang sedang berlangsung.
- Selective engagement sebagai rujukan dalam menyikapi suatu isu atau konflik.
- Pakar turut sarankan Indonesia melakukan konsolidasi diplomatik global.
RRI.CO.ID, Jakarta - Keterlibatan Indonesia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya eskalasi konflik. Strategi yang seimbang dinilai diperlukan agar Indonesia tetap bisa menempatkan dirinya tanpa mengabaikan aspek-aspek seperti keselamatan personel yang dikerahkan.
Terkait hal itu, Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Idham Badruzaman, menekankan pentingnya multilateralism. Menurutnya, sikap ini yang paling strategis bagi Indonesia saat ini dalam konflik yang sedang berlangsung.
"Sikap paling strategis saat ini, Indonesia tetap mendukung multilateralism. Sejauh ini multilateralism adalah pandangan yang paling produktif yang paling bisa menciptakan keamanan, kenyamanan, dan kedamaian di dunia ini," ujarnya saat dihubungi, Senin, 6 April 2026.
Dalam konteks ini, lanjutnya, multilateralism adalah upaya bersatu melakukan kerja sama menyepakati hukum internasional dan mengakui kedaulatan masing-masing negara. "Itu perlu menjadi momentum bagi negara-negara untuk bisa memberikan tekanan lebih lanjut terhadap pihak yang bertikai," ujarnya.
Kiat penting lainnya, lanjut Idham, adalah menerapkan selective engagement. Ia menjelaskan, Indonesia perlu melakukan penyesuaian dalam keterlibatannya pada suatu isu atau konflik.
"Indonesia perlu melakukan selective engagement ketika melakukan tugasnya di sana. Tidak semua misi itu harus dilakukan, misalnya kalau itu mengancam nyawa," ujarnya.
Selective engagement merujuk pada upaya suatu negara menghindarkan diri terlibat dari konflik-konflik yang negara tersebut tidak memiliki kepentingan strategis di dalamnya. Sehingga, lebih fokus pada kepentingan dalam negerinya.
Menutup pernyataannya, Idham menyimpulkan bahwasanya Indonesia dapat berperan dalam mitigasi peperangan global. Tentunya tanpa mengabaikan meselamatan dari pasukan yang dikerahkan ke UNIFIL.
Selain melalui pendekatan operasional, langkah non-operasional seperti konsolidasi diplomatik juga penting dilakukan untuk menekankan agar keberadaan UNIFIL lebih dihormati. "Indonesia juga bisa melakukan skema bebas dan aktifnya untuk melakukan upaya-upaya perdamaian di kawasan tersebut," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....