SBY Desak PBB Lakukan Investigasi usai Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon
- 05 Apr 2026 16:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- SBY mendukung untuk desak PBB lakukan investigasi yang jujur dan adil mengenai insiden gugurnya prajurit TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon.
- SBY menjelaskan mandat penjaga perdamaian dan pasukan tempur dianggap berbeda.
- Pasukan Indonesia dinilai melaksanakan tugas melampaui kewajiban sebagai penjaga perdamaian.
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan duka mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi UNIFIL. Ia turut menyayangkan sejumlah prajurit lainnya yang terkena dampak dari insiden ledakan di tengah eskalasi konflik Israel-Hizbullah tersebut.
SBY mengatakan, dirinya mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto yang mendesak investigasi menyeluruh oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menilai, Indonesia berhak mendapat penjelasan atas insiden beruntun tersebut.
"Saya mendukung langkah-langkah pemerintahan Presiden Prabowo yang mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi secara serius, jujur dan adil. PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang menimpa "peacekeeper" dari Indonesia itu terjadi," ujar SBY dalam tulisannya melalui unggahan X, Minggu, 5 April 2026.
"Saya tahu bahwa investigasi dalam situasi pertempuran yang amat dinamis sering tidak mudah. Tetapi, bagaimanapun tetap harus dapat dilaksanakan dengan harapan hasilnya dapat dinalar dan masuk akal (acceptable, believable narrative)," ucapnya.
SBY menjelaskan, pasukan penjaga perdamaian memiliki mandat berbeda dari pasukan tempur. Sesuai Chapter 6 Piagam PBB, mereka bertugas menjaga perdamaian bukan menjalankan operasi militer.
Ia menilai, situasi di lapangan kini berubah menjadi zona perang yang berbahaya. Kondisi ini meningkatkan risiko bagi prajurit Indonesia yang bertugas sebagai penjaga perdamaian.
"Satuan pemeliharaan perdamaian PBB, contohnya Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Lebanon saat ini. tugasnya adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan 'peacemaking'," ujarnya.
"'Peacekeeper' tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak pula diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran," ujarnya. SBY pun mendorong Dewan Keamanan PBB segera mengambil langkah tegas dan bisa mengeluarkan resolusi yang jelas.
Di akhir pernyataannya, SBY memberi pesan kepada prajurit yang masih bertugas. "Saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Lebanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....