Kurma, Agrowisata, dan Wisata Religi Disiapkan Jadi Paket Ekonomi Baru KLU

  • 30 Jun 2026 19:31 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Utara– Pengembangan kurma di Kabupaten Lombok Utara (KLU) tidak hanya diarahkan sebagai proyek pertanian semata, tetapi juga dibangun melalui pendekatan sosial, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah daerah menyiapkan model pembangunan yang menggabungkan riset ilmiah dengan kearifan lokal sebagai fondasi terbentuknya pusat peradaban kurma di Indonesia.

Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi pembentukan Tim Percepatan Pembangunan Peradaban Kurma Indonesia yang melibatkan pemerintah daerah, BRIN, Aliansi Masyarakat Adat, praktisi budidaya kurma, lembaga zakat, serta sejumlah mitra pembangunan.

Salah satu konsep yang sedang dirumuskan adalah penerapan sistem nyakap, yakni pola kerja sama pengelolaan lahan berbasis bagi hasil yang telah lama dikenal masyarakat Lombok Utara. Skema tersebut dinilai mampu memperluas partisipasi masyarakat dalam pengembangan kebun kurma tanpa menghilangkan nilai-nilai lokal.

Sekretaris Tim Percepatan Pembangunan Peradaban Kurma Indonesia, Nasli, mengatakan konsep tersebut masih memerlukan pembahasan lebih mendalam agar dapat diterapkan secara efektif dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak.

Menurutnya, sejumlah rapat teknis akan digelar untuk merumuskan mekanisme pelaksanaan, pembagian tugas antarinstansi, hingga penyusunan target kerja yang terukur.

Di sisi lain, BRIN akan melakukan penelitian menyeluruh sebagai dasar penyusunan kebijakan pengembangan kurma di Lombok Utara. Kajian tersebut tidak hanya menilai kondisi lahan, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial, budaya, serta kesiapan masyarakat dalam mendukung program.

Tim Ahli BRIN, Prof. Ahmad Suryadi, menyatakan penelitian tersebut menjadi langkah penting karena Indonesia belum memiliki basis data komprehensif mengenai potensi budidaya kurma.

Ia menilai Lombok Utara memiliki peluang menjadi laboratorium nasional pengembangan kurma yang hasil kajiannya dapat diterapkan di berbagai daerah lain di Indonesia.

Selain sektor pertanian, pemerintah daerah juga merancang pengembangan kawasan kurma yang terintegrasi dengan agrowisata dan wisata religi. Konsep ini diharapkan mampu menciptakan destinasi baru sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat, mulai dari budidaya, pengolahan hasil, hingga sektor jasa pariwisata.

Praktisi kurma dari Ukhuwah Datu Nusantara, Arif Munandar, menyebut pembentukan tim percepatan menjadi tonggak penting setelah berbagai upaya pengembangan kurma dilakukan selama beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, keterlibatan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat menunjukkan bahwa pengembangan kurma kini telah menjadi gerakan bersama, bukan lagi sekadar inisiatif kelompok tertentu.

Ke depan, pemerintah daerah bersama BRIN, PT Tani Makmur, Akuatun Nusantara, dan Baznas akan menyusun program teknis serta peta jalan pembangunan lima tahun sebagai acuan mewujudkan kawasan peradaban kurma yang diharapkan menjadi rujukan nasional sekaligus penggerak ekonomi baru di Kabupaten Lombok Utara.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....