Atalia Soroti Lagu Ciptaan Bupati Purwakarta yang Dinilai Merendahkan Perempuan

  • 01 Jul 2026 19:43 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, menyampaikan kritik terhadap lagu berbahasa Sunda berjudul ‘Lalaki Langit, Lalanang Bejat’ karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein. Menurut Atalia, isi lagu tersebut mengandung narasi yang berpotensi merendahkan perempuan dan tidak mencerminkan penghormatan terhadap martabat perempuan.

Kritik itu disampaikan Atalia melalui akun Instagram pribadinya pada Rabu 1 Juli 2026. Ia menilai persoalan tersebut tidak dapat dipandang semata sebagai ekspresi seni, mengingat lagu itu dibuat oleh seorang kepala daerah yang memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat.

Dalam unggahannya, Atalia mengaku telah berupaya memahami makna yang ingin disampaikan melalui lagu tersebut. Namun, setelah mencermati keseluruhan lirik, ia mengaku tak bisa menemukan substansi positif dari lagu itu.

"Jujur saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," tulis Atalia, Rabu 1 Juli 2026.

Atalia juga mempertanyakan alasan penggunaan diksi dan penggambaran yang dinilai merendahkan perempuan. Menurutnya, bahasa Sunda memiliki kekayaan ungkapan yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan yang lebih membangun, santun, dan menghormati sesama.

Atalia menegaskan, budaya Sunda selama ini dikenal menjunjung nilai ‘silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi’. Karena itu, ia menilai pengalaman biologis perempuan tidak semestinya dijadikan bahan candaan ataupun perbandingan yang berpotensi merendahkan harkat dan martabat perempuan.

"Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?" lanjut Atalia dalam unggahan tersebut.

Lagu tersebut belakangan ini tengah menjadi perbincangan di media sosial. Selain mendapat sorotan dari Atalia Praratya, kritik juga datang dari sejumlah pegiat perempuan dan warganet yang menilai isi lagu tersebut kurang sejalan dengan upaya mendorong penghormatan terhadap perempuan dan penguatan kesetaraan gender.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....