Fenomena FOMO Dorong Film Horor Indonesia Kian Digandrungi
- 08 Jul 2026 09:45 WIB
- Batam
RRI.CO.ID, Batam –Dalam beberapa tahun terakhir, bioskop Indonesia seolah tidak pernah sepi dari film bergenre horor. Hampir setiap bulan, penonton disuguhi kisah-kisah mistis, teror supranatural, hingga adaptasi cerita rakyat yang berhasil menarik jutaan penonton. Fenomena ini memunculkan istilah Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan masyarakat, yakni dorongan untuk segera menonton film horor agar tidak tertinggal perbincangan di media sosial maupun lingkungan pergaulan.
Fenomena FOMO terhadap film horor bukan sekadar tren sesaat. Genre ini telah berkembang menjadi salah satu penggerak utama industri perfilman nasional. Data box office beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa film horor secara konsisten mendominasi daftar film Indonesia terlaris. Bahkan pada 2026, sebagian besar film lokal dengan jumlah penonton tertinggi berasal dari genre horor.
Dirangkum dari beberapa pendapat pencinta film tanah air terdapat beberapa faktor yang membuat film horor begitu diminati masyarakat. Pertama, horor menawarkan pengalaman emosional yang berbeda dibanding genre lain. Sensasi tegang, rasa penasaran, dan kejutan yang muncul sepanjang film memicu adrenalin penonton. Meski menakutkan, pengalaman tersebut justru menjadi hiburan yang dicari banyak orang.
Kedua, kekuatan cerita yang dekat dengan budaya Indonesia. Berbagai film horor mengangkat kisah urban legend, mitos daerah, ritual adat, hingga sosok makhluk gaib yang telah lama dikenal masyarakat. Kedekatan budaya tersebut membuat penonton merasa cerita yang disajikan lebih realistis dan mudah dipercaya dibandingkan horor dari negara lain.
Faktor berikutnya adalah pengaruh media sosial. Potongan adegan menyeramkan, reaksi penonton di bioskop, hingga ulasan para kreator konten dengan cepat menyebar di platform digital. Ketika sebuah film menjadi topik hangat, muncul dorongan psikologis untuk ikut menonton agar tidak tertinggal percakapan atau menjadi satu-satunya orang yang belum mengetahui alur ceritanya. Inilah yang dikenal sebagai fenomena FOMO.
Meski demikian, para sineas mulai menghadapi tantangan baru. Penonton kini semakin kritis dan tidak lagi hanya mencari adegan "jump scare". Mereka menginginkan cerita yang kuat, karakter yang berkembang, kualitas sinematografi yang baik, serta pesan yang membekas setelah film berakhir. Karena itu, banyak rumah produksi mulai memadukan unsur horor dengan drama keluarga, thriller psikologis, komedi, bahkan kritik sosial.
Fenomena FOMO terhadap film horor menunjukkan bahwa kebiasaan menonton masyarakat Indonesia telah berubah. Menonton bukan lagi sekadar menikmati hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman sosial yang dibagikan melalui media digital. Selama para sineas mampu menghadirkan cerita yang segar dan berkualitas, genre horor diperkirakan masih akan menjadi primadona di industri perfilman Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....