Sajen Satu Suro, Keris Tua Memanggil Malam Terlarang

  • 20 Jul 2026 09:30 WIB
  •  Denpasar

RRI. CO.ID, Denpasar – Sajen Satu Suro hadir sebagai film horor yang menghidupkan lagi rasa takut khas horor Indonesia lewat pusaka tua, malam keramat, dan desa yang menyimpan rahasia rapat-rapat. Berdasarkan sumber Cinema XXI, film ini dijadwalkan tayang mulai 30 Juli 2026 di bioskop Indonesia.

Film ini disutradarai oleh Gatot Subroto dan memiliki durasi 1 jam 46 menit dengan rating Remaja 13+. Untuk pemutaran, film ini hadir di jaringan bioskop seperti Cinema XXI, CGV, Cinepolis, dan jaringan bioskop lokal lain di berbagai kota di Indonesia.

Film horor terbaru ini menghadirkan nuansa klasik yang terinspirasi dari kisah-kisah horor legendaris Indonesia, namun dikemas dengan pendekatan yang lebih modern. Menghadirkan latar desa yang asri, atmosfer mencekam, serta sosok hantu ikonik yang lekat dengan cerita rakyat, film ini menawarkan perpaduan antara nostalgia dan ketegangan yang siap memikat penonton.

Kisah bermula dari Tania (Aisyah Aqila), seorang gadis yang nekat melakukan perjalanan demi menyelamatkan sang ibu yang tengah berada dalam kondisi kritis. Tanpa sepengetahuan ayahnya, Tania membawa keris warisan mendiang kakeknya untuk dikembalikan ke tempat asalnya sebelum malam Satu Suro, karena meyakini bahwa benda pusaka tersebut menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan ibunya.

Dalam misinya, Tania ditemani tiga sahabatnya, Jeff (Cinta Brian), Laura (Frislly Herlind), dan Robby (Munggaran). Perjalanan mereka membawa rombongan itu ke Desa Maduabang, kampung halaman ayah sekaligus mendiang kakeknya. Namun, kedatangan mereka dengan membawa keris milik Sapto Dilogo (Clift Sangra) justru memicu kepanikan warga. Benda pusaka tersebut dipercaya sebagai awal dari bangkitnya teror lama yang selama bertahun-tahun menghantui desa.

Nama Sumarni (Asila Corina), sosok Hantu Andong Pengantin yang melegenda di Desa Maduabang, kembali menjadi perbincangan. Ketakutan akan munculnya kembali arwah tersebut membuat warga beramai-ramai memasang sajen sebagai upaya menangkal malapetaka. Sayangnya, yang bangkit bukan hanya Sumarni, tetapi juga dendam lama yang berkaitan dengan masa lalu mendiang kakek Tania.

Seiring terungkapnya satu demi satu rahasia kelam yang selama ini tersembunyi, Tania dan ketiga sahabatnya harus menghadapi teror yang semakin mengancam keselamatan mereka. Di tengah batas yang semakin kabur antara kesalahan manusia dan kekuatan gaib, Tania dipaksa mengungkap kebenaran mengerikan tentang sejarah keluarganya. Waktu terus berjalan, sementara dendam masa lalu kembali menuntut korban. Kini, Tania harus berpacu dengan waktu untuk mematahkan kutukan tersebut dan menyelamatkan orang-orang yang masih hidup sebelum semuanya terlambat.

Yang membuat film ini menonjol adalah latar desa yang indah namun terasa rawan, seolah setiap sudut menyimpan sesuatu yang menunggu malam turun. Nuansa ini mengingatkan pada horor klasik Indonesia, tetapi dibungkus lebih modern lewat visual, tempo, dan sosok-sosok gaib ikonik yang siap mengganggu penonton.

Kalau dilihat dari premisnya, Sajen Satu Suro cocok untuk penonton yang suka horor lokal dengan elemen tradisi, ritual, dan keluarga yang terdesak keadaan. Film ini tidak sekadar bermain di rasa kaget, tetapi juga di ketegangan emosional ketika seseorang harus memilih antara keselamatan keluarga dan membuka kembali sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....