Menerka Luka Masa Kecil dalam Novel “Di Tanah Lada”

  • 03 Jun 2026 05:47 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Dilansir dari artikel mahasiswa magang Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, Mustika Mila Sari, Novel “Di Tanah Lada” menghadirkan cerita tentang Ava, anak perempuan berusia enam tahun yang hidup dalam keluarga penuh kekerasan. Bersama Mama dan Papanya, Ava pindah bersama Mama dan Papa-nya di Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal dunia.

Kepindahan itu bukan keputusan yang lahir demi kenyamanan keluarga, melainkan karena Papa ingin tinggal dekat kasino. Novel karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini menceritakan kepada pembaca bahwa Papa bukan sosok ayah yang hangat.

Ia kasar, pemarah, dan sering melukai orang-orang di rumahnya dengan kata-kata maupun tindakan. Bahkan, Papa memanggil Ava dengan sebutan “Saliva” atau ludah karena menganggap anaknya tidak berguna. Dari detail kecil itu saja, Ziggy sudah menunjukkan bagaimana kekerasan verbal dapat meninggalkan luka mendalam bagi seorang anak.

Dari Novel ini kita bisa mempelajari, ditengah kehidupan yang penuh ketakutan, Ava memiliki satu hal berharga kamus hadiah dari Kakek Kia. Dari kamus itu, Ava belajar memahami banyak kata dan mencoba mengerti dunia orang dewasa yang terasa rumit baginya.

Sudut pandang Ava sebagai anak kecil menjadi kekuatan utama novel ini. Pembaca diajak untuk menyelami perspektif Ava dengan kepolosannya. Hal ini membuat pembaca pun merasakan rasa sedih yang dalam dan terasa nyata.

Kehidupan Ava juga mulai berubah ketika ia bertemu dengan P, anak laki-laki yang juga memiliki trauma yang sama. Pertemanan mereka menjadi hangat sekaligus menyedihkan karena keduanya tumbuh dengan rasa takut dan kehilangan kepercayaan terhadap keluarga.

Dari hubungan Ava dan P, novel ini menunjukkan bagaimana perlakuan orang tua dapat memengaruhi cara anak memandang dunia. Novel ini juga dilengkapi ilustrasi -ilustrasi gambar yang cantik.

Semakin mendukung suasana cerita. Gambar-gambar yang disajikan sederaha namun mampu memikat dan memperkuat emosi pembaca.

Pembaca merasakan pengalaman membaca yang berbeda. Hal menarik lainnya adalah gaya bahasa penulis yang khas.

Bahasanya sederhana, tetapi puitis dan penuh makna. Banyak kalimat terdengar polos seperti ucapan anak kecil, namun justru meninggalkan rasa sedih yang dalam.

Ziggy dalam karya yang terbit pada tahun 2015 ini memanfaatkan kata-kata dan makna bahasa sebagai bagian penting dalam cerita, membuat novel ini terasa unik dibanding novel lainnya. Meskipun alurnya cenderung lambat, “Di Tanah Lada” tetap berhasil membangun emosi pembaca.

Bagian akhir novel cerita “Di Tanah Lada” justru membuat pembaca penasaran. Penulis membiarkan cerita tergantung tanpa mengetahui secara pasti seperti apa akhir dari cerita ini.

Novel ini memiliki banyak pertanyaan dan perasaan kosong. Hal ini menjadi cara penulis untuk menarik perhatian pembaca setianya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....