Menggali Kedalaman Emosi lewat Pemikiran Syam Basrijal
- 26 Feb 2026 12:59 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Di tengah gempuran kutipan motivasi yang membanjiri lini masa, muncul sebuah teguran keras namun lembut melalui karya terbaru Syam Basrijal. Buku bertajuk Toxic Positivity: Penghambat Jalan Keutuhan Diri (Nasmedia, 2025) hadir sebagai antitesis terhadap budaya "pemujaan kebahagiaan" yang selama ini dianggap sebagai standar kesehatan mental.
Jebakan "Good Vibes Only"
Basrijal membuka bukunya dengan premis yang provokatif: memaksakan diri untuk selalu positif justru merupakan bentuk pengkhianatan terhadap diri sendiri. Ia mendefinisikan toxic positivity bukan sebagai optimisme, melainkan sebagai penolakan terhadap spektrum emosi manusia yang valid, seperti kesedihan, kemarahan, dan kekecewaan.
Dalam narasinya, penulis menyoroti bagaimana kalimat-kalimat seperti "ambil hikmahnya saja" atau "masih banyak yang lebih susah darimu" sering kali menjadi senjata untuk membungkam empati, baik terhadap orang lain maupun diri sendiri.
Anatomi Penolakan Diri
Buku ini membagi proses penghambatan keutuhan diri menjadi beberapa fase:
Supresi Emosi: Menekan perasaan negatif yang justru membuatnya "meledak" di kemudian hari dalam bentuk kecemasan atau psikosomatis.
Alienasi Diri: Kehilangan koneksi dengan realitas perasaan asli demi memenuhi ekspektasi sosial.
Baca juga: Mengulas "Emosi" Karya Tristanti WStigma Terhadap Kerentanan: Munculnya rasa bersalah saat merasa tidak bahagia, seolah kegagalan untuk tersenyum adalah kegagalan karakter.
Menuju Keutuhan: Merangkul Seluruh Spektrum
Alih-alih menawarkan solusi instan, Basrijal mengajak pembaca untuk menempuh jalan "Penerimaan Radikal". Keutuhan diri, menurutnya, tidak ditemukan dengan membuang sisi gelap, melainkan dengan mengakuinya.
https://gayahidup.rri.co.id/nunukan/hiburan/2208917/mengulas-emosi-karya-tristanti-w
Ia memperkenalkan konsep validasi emosi sebagai kunci. Penulis menekankan bahwa kesehatan mental yang sejati adalah kemampuan untuk merasa tidak baik-baik saja tanpa merasa bersalah. "Keutuhan diri bukan berarti menjadi sempurna tanpa cacat emosi, melainkan menjadi utuh dengan seluruh retakan yang ada." — Syam Basrijal
Secara Keseluruhan, Toxic Positivity: Penghambat Jalan Keutuhan Diri bukan sekadar kritik sosial, melainkan panduan untuk kembali menjadi manusia yang autentik. Basrijal berhasil mengingatkan kita bahwa di dunia yang menuntut kesempurnaan, kejujuran pada perasaan sendiri adalah bentuk perlawanan yang paling berani.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....