Mahmoud Darwish: Memperjuangkan Palestina lewat Puisi

  • 30 Mar 2026 16:12 WIB
  •  Nunukan
Poin Utama
  • Seorang penulis asal Palestina yang menyuarakan penderitaan, perjuangan dan harapan rakyat melalui karya puisinya yang mempesona.

RRI.Co.Id, Nunukan: Mahmoud Darwish (1941–2008) adalah seorang penyair dan penulis Palestina yang dianggap sebagai salah satu tokoh terbesar dalam sastra Arab modern. Ia lahir di desa al-Birwa di Galilea, yang kini berada dalam wilayah Israel. Pengalaman pribadi dan pengalaman rakyat Palestina sebagai pengungsi dan penderitaan yang dialami akibat konflik Israel-Palestina sangatlah mempengaruhi karya Darwish.

Mahmoud Darwish tidak hanya menulis puisi; ia menyuarakan rasa sakit, harapan, dan impian seluruh bangsa. Dengan gaya puitis yang memadukan keindahan bahasa dan kedalaman emosional, Darwish menciptakan karya-karya yang tidak hanya merefleksikan penderitaan pengasingan dan konflik, tetapi juga memberikan kekuatan dan semangat yang membakar jiwa.

Kehidupan Awal

Darwish lahir dalam keluarga petani dan tumbuh di dalam masa ketegangan politik dan sosial yang memuncak dengan adanya pembentukan negara Israel pada tahun 1948. Kala itu, desa kelahirannya al-Birwa hancur, dan keluarga Darwish terpaksa mengungsi ke Lebanon.


Karier Sastra

Mahmoud Darwish memulai kariernya sebagai penulis dan penyair sejak usia muda. Karya-karyanya sering kali mencerminkan tema-tema seperti kehilangan, pengasingan, identitas, dan harapan untuk kebebasan. Berikut beberapa karya Mahmoud Darwish yang populer dengan keindahan dan emosi yang tertuang di dalamnya.

"A Lover from Palestine" (1966)

Sebuah karya kumpulan puisi yang menggambarkan cinta dan kerinduan terhadap tanah air yang hilang. Di daialmnya mengeksplorasi tema-tema seperti pengasingan, cinta, dan identitas Palestina, serta hubungan emosional yang mendalam antara seorang individu dan tanah airnya.

"Mural" (2000)

Kumpulan puisi ini dianggap sebagai salah satu karya terbaiknya. Dengan Menyelami tema-tema kehilangan, kerinduan, dan pengasingan, membuat puisi-puisinya mampu menyentuh hati.

“Identity Card” (1964)

Darwish menyatakan dengan bangga mengenai identitas Arabnya dan menantang dunia untuk mengakuinya. “Write down! I am an Arab / And my identity card number is fifty thousand”, ia tuliskan penuh dengan perasaan bangga atas identitas dirinya.

Pengalaman Penjara

Pada usia 22 tahun, Darwish ditahan oleh otoritas Israel selama 18 bulan sebagai bagian dari kampanye penindasan terhadap para aktivis Palestina. Selain itu, Mahmoud Darwish juga sempat ditahan beberapa kali sepanjang hidupnya. Dari tahun 1961 hingga 1967, dia dipenjara setidaknya lima kali.

Meskipun begitu, semangatnya untuk menyuarakan tentang perjuangan, rasa sakit dan harapan rakyat palestina tak pernah padam. Ada sebuah puisi karyanya yang berjudul “Identity Card,” bagian dari kumpulan puisi “Leaves of the Olive Tree” (1964), yang menyebabkan ia dikenakan tahanan rumah. Disisi lain, puisi tersebut malah menjadi lagu perjuangan bagi protes Palestina.

Puisi “Identity Card” oleh Mahmoud Darwish (Terjemahan oleh Saut Situmorang)

Put it on record. (Catat)

I am an Arab (Aku orang Arab)

And the number of my card is fifty thousand (Dan nomor kartu identitasku limapuluh ribu)

I have eight children (Aku punya delapan anak)

And the ninth is due after summer. (Dan yang kesembilan akan lahir setelah musim panas)

What's there to be angry about? (Apa kau akan marah?)

Put it on record. (Catat!)

I am an Arab˜ (Aku orang Arab)

Working with comrades of toil in a quarry. (Bekerja dengan sesamaku di sebuah tambang batu)

I have eight children (Aku punya delapan anak)

For them I wrest the loaf of bread, (Aku beri mereka roti)

The clothes and exercise books (Pakaian dan buku)

From the rocks (dari batu…)

And beg for no alms at your door, (Aku tidak mengemis bantuan dengan mengetuk pintu rumahmu)

Lower not myself at your doorstep. (Atau merendahkan diriku di tangga kamarmu)

What's there to be angry about? (Jadi apa kau akan marah?)

Put it on record. (Catat!)

I am an Arab. (Aku orang Arab)

I am a name without a title, (Namaku tanpa gelar)

Patient in a country where everything (Bersabar di negeri)

Lives in a whirlpool of anger. (Yang penuh orang-orang marah)

My roots (Akarku)

Took hold before the birth of time (Tertanam di sini sebelum lahirnya waktu)

Before the burgeoning of the ages, (Dan sebelum dimulainya zaman)

Before cypress and olive trees, (Sebelum pohon-pohon pinus dan pohon-pohon zaitun)

Before the proliferation of weeds. (Dan sebelum rumput-rumput tumbuh.)

My father is from the family of the plough (Bapakku… keturunan keluarga pembajak tanah)

Not from highborn nobles. (Bukan dari kelas priyayi)

And my grandfather was a peasant (Dan kakekku… seorang petani)

Neither well-bred, nor well-born! (Bukan orang kaya ataupun orang sekolahan!)

Teaches me the pride of the sun (Diajarkannya aku tentang harga diri matahari)

Before teaching me how to read (Sebelum mengajariku membaca)

My house is a watchman's hut (Dan rumahku seperti gubuk penjaga malam)

Made of sticks and reeds. (Terbuat dari ranting pohon dan tebu)

Does my status satisfy you? (Apa kau sudah puas dengan statusku sekarang?)

I am a name without a surname. (Aku punya nama tanpa gelar!)

Put it on record. (Catat!)

I am an Arab. (Aku orang Arab)

You stole my forefathers' vineyards (Telah kau curi kebun-kebun buah nenek moyangku)

And land I used to till, (Dan tanah yang kugarap)

I and all my children, (Bersama anak-anakku)

And you left us and all my grandchildren (Dan tak ada lagi sisa bagi kami)

Nothing but these rocks. (Kecuali batu-batu ini…)

Will your government be taking them too (Apa Negara pun akan mengambilnya juga)

As is being said? (Seperti kata orang?)

So! (Jadi)

Put it on record at the top of page one: (Catat di bagian atas halaman pertama:)

I don't hate people, (Aku tidak benci)

I trespass on no one's property. (Atau akan menyerang orang)

And yet, if I were to become hungry (Tapi kalau aku kelaparan)

I shall eat the flesh of my usurper. (Daging penindasku akan jadi makananku)

Beware, beware of my hunger (Hati-hatilah… Hati-hatilah… Dengan lapar)

And of my anger! (Dan marahku!)

(Sumber: The Poetry Foundation, Al Jazeera dan Sastra Indonesia)

BACA JUGA: Mengenal 5 Penulis Terkenal Abad ke-19

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....