Potret Pasar 'Sogo Jongkok' Depan Mandiri saat Pengunjung Berkurang
- 07 Jul 2026 09:30 WIB
- Jakarta
SUASANA Pasar dadakan yang ada tidak jauh dari belakang Gedung Museum Nasional atau Museum Gajah, tepatnya di depan gedung Bank Mandiri, titik lokasi depan Gedung BSG di Jalan Abdul Muis Tanah Abang Jakarta Pusat tampak berbeda pada Jumat, 3 Juli 2026. Pasar yang selama ini menjadi tujuan pegawai perkantoran untuk berburu makanan, pakaian, dan berbagai kebutuhan harian terlihat lebih lengang dibandingkan hari-hari Jumat sebelumnya seiring berkurangnya aktivitas pekerja yang datang ke kantor.
Bagi sebagian warga Jakarta, kawasan ini kerap disebut sebagai 'Sogo Jongkok Jumat' karena hanya ada setiap hari Jumat saja. Namun, sebutan tersebut lebih merupakan istilah yang berkembang di kalangan masyarakat karena karakter pasar yang menjual beragam barang dengan harga terjangkau, sementara mayoritas pengunjungnya merupakan pegawai dari berbagai kantor pemerintah maupun swasta di sekitar lokasi pasar.

Sejak pagi, deretan lapak makanan dan pakaian tetap berjejer seperti biasanya. Aroma bebek goreng, toge goreng, roti, salad buah, es goyang, hingga aneka jajanan lain masih mengundang perhatian, meski ruang di antara lapak kini terasa lebih lega karena jumlah pembeli tidak seramai pekan-pekan sebelumnya.
Salah seorang pedagang pakaian mengatakan penurunan jumlah pengunjung langsung berpengaruh terhadap penjualan. "Omzet saya menurun drastis," ujar pedagang tersebut sambil melayani beberapa pembeli.
Kondisi serupa dirasakan Ani, penjual roti yang telah lama berjualan di pasar tersebut. Menurutnya, sebagian besar pelanggannya merupakan pegawai kantor sehingga jumlah dagangan kini disesuaikan dengan kondisi lapangan.
"Saya kurangi jumlah stok makanan nya, karena sudah tidak ramai lagi seperti sebelum wfh diberlakukan," ucap Ani.
Aktivitas pasar yang berubah tidak terlepas dari berkurangnya jumlah pegawai yang datang ke kawasan perkantoran setiap Jumat. Sejak beberapa bulan terakhir, pemerintah mulai menerapkan kebijakan bekerja dari rumah bagi aparatur sipil negara setiap Jumat, sementara perusahaan swasta juga mendapat imbauan untuk menerapkan pola kerja serupa sesuai kebutuhan masing-masing sebagai pengematan konsumsi BBM, imbas perang Iran-Amerika Serikat.
Penyesuaian stok juga dilakukan pedagang lain agar makanan maupun barang dagangan tidak tersisa terlalu banyak. Langkah tersebut dinilai menjadi cara paling realistis untuk menjaga usaha tetap berjalan sambil menunggu jumlah pembeli kembali meningkat.
Di sela aktivitas pasar, beberapa pegawai yang tetap bekerja dari kantor masih menyempatkan diri berbelanja saat jam istirahat. Salah seorang pembeli mengaku suasana kali ini berbeda dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
"Gak terlalu ramai lagi biasanya jam seperti ini sudah berdesakan," ucapnya.
Meski demikian, suasana yang lebih lengang justru memberi kenyamanan bagi sebagian pengunjung. Mereka dapat melihat-lihat barang tanpa harus berdesakan, meski pilihan produk yang tersedia tidak sebanyak biasanya karena sejumlah pedagang mengurangi jumlah stok.
Tidak sedikit pula pengunjung yang datang karena rindu dengan jajanan khas yang hanya ramai dijumpai setiap hari Jumat di kawasan tersebut. Beberapa di antaranya sengaja mencari toge goreng, bebek goreng, salad buah, es goyang, hingga berbagai makanan rumahan yang telah lama menjadi langganan pegawai kantor di sekitar lokasi pasar
Keberadaan pasar ini memiliki jejak sejarah yang menarik. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan nama "Sogo Jongkok", sebuah pasar yang pernah dikenal luas di kawasan Jalan Fachrudin dan Jalan Abdul Muis pada akhir dekade 1990-an. Saat krisis ekonomi 1998, lokasi tersebut menjadi ruang bagi masyarakat yang kehilangan pekerjaan untuk berdagang berbagai kebutuhan dengan harga terjangkau sehingga menarik banyak pembeli dari berbagai daerah.
Seiring waktu, aktivitas perdagangan di lokasi lama berhenti. Namun, tradisi berburu jajanan dan barang murah setiap hari Jumat tetap hidup di kawasan sekitaran Tanah Abang melalui pasar-pasar dadakan yang menjadi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menawarkan produknya kepada pegawai perkantoran.
Bagi para pedagang, pasar ini bukan sekadar tempat berjualan, tetapi juga ruang pertemuan antara penjual dan pelanggan yang telah saling mengenal selama bertahun-tahun. Karena itu, mereka memilih tetap membuka lapak setiap pekan sambil berharap aktivitas perkantoran kembali ramai sehingga jumlah pengunjung ikut meningkat.
"Saya pasrah, rezeki sudah ada yang mengatur," ujar seorang pedagang menutup percakapan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....