Potret Pedagang Pasar Ular, Omzet Jutaan Tinggal Kenangan
- 28 Feb 2026 13:56 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Lorong-lorong Pasar Ular, Plumpang, Jakarta Utara, kini tak lagi sesesak dulu. Sentra belanja yang legendaris dengan barang-barang branded sisa ekspor ini seolah kehilangan taringnya.
Ari Tonang (58), salah satu pedagang senior di sana, menjadi saksi bisu bagaimana pasar yang dulu menjadi primadona para artis kini sepi bak kota mati.
Ari, yang sudah berdagang di kawasan tersebut sejak tahun 1985 dan membuka kios pakaian sejak 2005, mengenang masa-masa keemasan Pasar Ular. Menurutnya, era 90-an hingga masa pemerintahan Presiden SBY adalah puncak kejayaan mereka.
"Dulu ramainya luar biasa, apalagi zamannya Pak Harto sampai Pak SBY. Artis banyak yang datang ke sini berburu barang. Dulu sehari saya bisa kantongi bersih (untung) Rp1 juta sampai Rp2 juta lebih. Itu baru untungnya, belum omzet," kenang Ari saat ditemui di kiosnya. Sabtu, 28 Februari 2026.
Kala itu, harga sewa kios yang mahal pun tak jadi masalah karena perputaran uang sangat cepat. Barang-barang sisa ekspor (export reject) dari pelabuhan menjadi incaran karena kualitasnya yang tinggi namun harga miring.
Dihantam Badai Digital
Namun, roda nasib berputar. Ari menuturkan bahwa penurunan drastis mulai terasa di era pemerintahan Presiden Jokowi, dan semakin parah pasca-pandemi. Kehadiran e-commerce dan toko online dituding sebagai biang kerok utamanya.
"Sekarang mah boro-boro untung, buat makan sehari-hari saja susah. Kadang sehari itu nol (tidak ada penjualan). Laku satu atau dua potong saja sudah bersyukur," ujarnya dengan tatapan nanar.
Ari mengakui dirinya gagap teknologi dan tidak bisa mengikuti tren berjualan secara live di media sosial. Ketidaktahuan akan teknologi membuat pedagang konvensional sepertinya semakin tergerus zaman.
"Saya pernah coba, tapi kan enggak familiar sama teknologinya. Kita kalah telak. Di sini kita bayar pajak, bayar sewa, sementara yang online mungkin enggak kena biaya sewa semahal ini," keluh Ari.
Ari yang kini sudah memiliki kios sendiri—sehingga tidak terbebani sewa bulanan—tetap merasa berat karena daya beli masyarakat yang tak kunjung pulih.Ia berharap pemerintah turun tangan untuk menyeimbangkan persaingan antara pedagang pasar fisik dan pedagang online.
"Harapan saya cuma satu, pemerintah bikin regulasi yang adil. Kalau bisa, online itu dipajakin lebih tinggi atau diatur supaya orang mau balik lagi belanja ke pasar fisik. Biar kita yang pedagang kecil ini bisa napas lagi," pungkasnya.
Kini, Ari dan rekan-rekannya di Pasar Ular hanya bisa bertahan dengan sisa-sisa harapan, menunggu pembeli yang entah kapan akan meramaikan kembali lorong-lorong pasar legendaris tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....