Aceng Gimbal Bawa Anak Pesisir Lepas dari Jerat Gadget

  • 30 Mar 2026 10:36 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Taman Anak Pesisir menjadi ruang alternatif anak lepas dari kecanduan gadget.
  • PP Tunas hadir untuk melindungi anak dari risiko digital dan memperkuat peran orang tua.
  • Psikolog menilai pembatasan akses digital penting bagi tumbuh kembang anak.

RRI.CO.ID, Jakarta – Di sebuah rumah panggung di pesisir Cilincing, Kali Baru Jakarta Utara, tawa anak-anak menggema tanpa layar gawai. Di sana, Aceng Gimbal atau Asep Maulana mengajak mereka bermain, membaca, hingga berenang di laut—aktivitas yang perlahan menggeser ketergantungan pada gadget.

Aceng Gimbal menceritakan, interaksinya dengan anak-anak pesisir dimulai dari kegiatan trauma healing pascabencana hingga berkembang menjadi ruang belajar informal sejak 2019. “Kami lebih banyak mengajak anak bermain daripada gadget, karena sekarang anak-anak seperti ‘diperkosa’ oleh layar digital,” ujar Aceng dalam wawancara radio radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.


Asep Maulana yang lebih dikenal dengan nama Aceng Gimbal sejak lama mencurahkan perhatiannya untuk membantu anak-anak nelayan di Kali Baru Cililncing Jakarta Utara. “Sekarang anak-anak seperti ‘dipaksa’ hidup di dunia gadget, padahal mereka butuh bermain,” ujar Aceng Gimbal ditanya radio Pro1 RRI Jakarta soal penerapan PP Tunas pada Senin, 30 Maret 2026. (Foto: nikel.co.id)

Baca Juga:

Di Taman Anak Pesisir, kata Aceng, anak-anak dari usia PAUD hingga SMP bermain tanpa wahana modern, hanya memanfaatkan lingkungan sekitar seperti perahu nelayan dan ruang baca sederhana. “Kami bikin ruang baca, mereka juga bisa berenang di laut, itu jadi alternatif yang menyenangkan,” ucap Aceng. Aktivitas ini bisa jadi sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi gadget dalam keseharian anak.

Menurut Aceng, perubahan perilaku anak sangat terlihat ketika mereka diberi ruang bermain langsung. “Kalau di sini, mereka datang habis zuhur, main bareng teman-teman, bukan pegang gadget terus,” ucapnya. Ia menilai masalah utama bukan pada anak, melainkan pada pola asuh orang tua yang sering menjadikan gadget sebagai ‘penenang instan’.

Sebagaimana diketahui, pemerintah resmi menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS yang berlaku sejak 28 Maret 2026.

Aturan ini mewajibkan seluruh platform digital membatasi akses anak sesuai usia serta memperkuat pelindungan data pribadi anak.


Foto ilustrasi tawa anak-anak pecah di ruang terbuka saat memainkan permainan tradisional, menghadirkan kembali masa kecil yang bebas dari ketergantungan gadget. (Foto: Sandi Yudha/pexel)

Sejumlah kalangan menilai kehadiran PP Tunas menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital, lebih dari 80 persen anak Indonesia mengakses internet setiap hari dengan durasi rata-rata tujuh jam, sementara 48 persen pengguna internet adalah anak di bawah usia 18 tahun .

Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana berkata regulasi ini sebagai langkah yang sudah lama ditunggu. “Ini sangat membantu, karena orang tua sekarang kewalahan menghadapi paparan digital yang semakin luas,” ujar Vera yang diwawancara penyiar Radio Pro1 RRI Jakarta Farid Kurniawan pada Senin, 30 Maret 2026. Dalam wawancara itu, Vera menegaskan, aturan ini tidak menggantikan peran orang tua, melainkan memperkuat kolaborasi dalam pengasuhan anak.

Dari perspektif psikologi perkembangan, paparan gadget yang terlalu dini berdampak serius pada anak. “Yang paling sering terjadi adalah gangguan bicara, sulit konsentrasi, hingga risiko terpapar konten berbahaya dan eksploitasi,” ucap Vera. Ia menambahkan, anak yang terbiasa dengan konten cepat akan kesulitan fokus pada aktivitas belajar yang membutuhkan ketekunan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merespons kebijakan ini dengan mengembangkan ruang terbuka hijau dan perpustakaan sebagai alternatif aktivitas anak. Namun, Aceng mengingatkan bahwa akses dan edukasi orang tua tetap menjadi kunci. “Percuma taman bagus kalau orang tua tidak paham, anak tetap pegang gadget,” ujarnya.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....