Dapur Bunda Nia, Dari Meja Makan menuju Usaha Kuliner Sukses
- 14 Jul 2026 18:29 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Sebuah inovasi usaha tidak selamanya lahir dari perencanaan bisnis yang rumit. Terkadang, ide terbaik justru muncul dari obrolan santai di meja makan bersama keluarga. Hal inilah yang mendasari berdirinya "Dapur Bunda Nia", sebuah unit usaha kuliner lokal di Kota Kupang yang kini kian digandrungi masyarakat.
Kisah inspiratif ini dibagikan langsung oleh Michelle Flydia Dennia Giri, pemilik UMKM Dapur Bunda Nia, saat hadir sebagai narasumber dalam program siaran Teras UMKM Pro 4 RRI Kupang, Senin, 13 Juli 2026.
Michelle menceritakan bahwa usaha yang telah berjalan hampir satu tahun ini awalnya bermula dari ketidaksengajaan. Sang ibu, Mama Nia, yang memiliki hobi memasak, mencoba membuat nasi kuning dengan lauk ayam serundeng khas Sunda untuk disajikan kepada teman-teman Michelle yang berkunjung ke rumah.
"Mama kebetulan orang Sunda, jadi cita rasa masakan awalnya cenderung manis. Saya sempat khawatir rasanya kurang cocok dengan lidah orang Kupang yang terbiasa dengan makanan asin atau gurih. Namun, setelah dipromosikan dari mulut ke mulut oleh teman-teman, peminatnya justru meluas hingga ke kalangan orang tua," ujar Michelle.
Melihat potensi pasar yang menjanjikan, Michelle yang saat ini masih aktif sebagai mahasiswi, mulai melakukan ekspansi menu. Ia berinovasi dengan menghadirkan varian kuliner kekinian seperti dimsum mentai, kebab, dan burger.
Uniknya, meski sang ibu merupakan seorang vegetarian yang tidak mengonsumsi daging, rahasia kelezatan seluruh menu Dapur Bunda Nia tetap berada di tangan Mama Nia. Sang ibu memiliki kemampuan khusus untuk meracik takaran bumbu yang pas hanya melalui aroma dan visual bahan baku tanpa harus mencicipinya.
Demi menjaga kualitas dan konsistensi rasa, Dapur Bunda Nia berkomitmen untuk memproduksi seluruh bahan secara mandiri dan segar setiap hari, termasuk saus mayones yang diracik dari nol (home-made). Selain itu, atas dasar masukan dari para pelanggan, Michelle juga memodifikasi menu kebab dengan tambahan jagung manis serta memperbanyak porsi keju lumer pada menu dimsumnya.
Strategi pemasaran yang diterapkan Michelle juga tergolong cerdas dan adaptif terhadap tren media sosial. Melalui akun TikTok @dapur.bunda.nia, ia memanfaatkan lagu-lagu galau yang sedang populer di kalangan remaja Kota Kupang sebagai latar konten promosinya. Strategi unik ini terbukti ampuh menarik perhatian hingga membanjiri kolom pesan digital (Direct Message) mereka.
Saat ini, menu dimsum mentai menjadi produk paling laris (bestseller) yang mampu menjual hingga tiga boks besar per hari. Meski lapak mereka dibuka dari pukul 17.00 hingga 22.00 WITA, tidak jarang menu dimsum tersebut sudah habis terjual sejak pukul 20.00 WITA.
Menanggapi ketatnya persaingan usaha kuliner sejenis di Kota Kupang, Michelle mengaku tidak menjadikannya sebagai ancaman. Ia justru memandang kehadiran kompetitor sebagai motivasi untuk terus mempertahankan kualitas bahan baku yang segar dan pelayanan yang ramah.
Di akhir dialog, Michelle menyampaikan harapannya agar ekosistem UMKM di Kota Kupang dapat terus tumbuh, mandiri, dan mendapatkan dukungan penuh secara berkelanjutan dari pemerintah maupun masyarakat lokal. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....