Tensi Geopolitik Tidak Stabil, IHSG dan Rupiah Berbeda Arah

  • 30 Jun 2026 09:17 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - IHSG kembali ditutup melemah meskipun banyak dinaungi kabar positif pada perdagangan hari ini. IHSG ditutup melemah 1,28 persen di level 5.820,790. IHSG sebelumnya sempat menyentuh level psikologis 5.800.

Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin menilai IHSG mengalami tekanan di saat bursa Asia kebanyakan ditutup di zona hijau. Ditambah lagi penguatan mata uang rupiah yang ditutup di level 17.835 per US Dolar, realitanya juga tidak banyak membantu kinerja IHSG.

"Selama sesi perdagangan berlangsung, rupiah ditransaksikan di zona hijau dalam rentang perdagangan 17.835 hingga 17.865 per US Dolar. Dan rupiah sangat diuntungkan dengan melemahnya imbal hasil US Treasury 10 tahun ditambah dengan memburuknya kinerja USD Index ke kisaran level 101.2. Meski demikian pelaku pasar masih dihantui ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah," ucap Gunawan.

Ia menuturkan, tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah sempat memanas di akhir pekan kemarin, meskipun kedua belah pihak yang bertikai sempat menandatangani kesepakatan damai. Ketidakpastian masih akan menyelimuti perdagangan di pasar keuangan dalam jangka pendek.

"Perjanjian damai sejauh ini dinilai sangat rapuh dan sangat rentan memicu perang yang lebih besar. Pasar akan tetap fokus pada harga minyak mentah dunia, dimana saat perang kembali pecah harga minyak dunia alami kenaikan dalam rentang $70 hingga $72 per barel," katanya.

Gunawan menyebut situasi pasar saat ini masih memungkinkan adanya peluang harga minyak kembali naik, dan memicu tekanan pada pasar keuangan secara keseluruhan. Rupiah dan IHSG masih sangat rentan mengalami koreksi dalam jangka pendek.

Sementara itu harga emas dunia ditransaksikan melemah tipis di level $4.030 per ons troy, atau sekitar 2.32 juta per gramnya. Harga emas masih berkonsolidasi dikisaran harga 4 ribu per ons troy.

"Secara fundamental emas masih berpeluang untuk menguat, meskipun masih dibayangi potensi lonjakan harga minyak mentah yang bisa menyulut kenaikan laju tekanan inflasi," ujar Gunawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....