Inflasi Inti AS Naik, IHSG dan Rupiah Berpotensi Tertekan

  • 26 Jun 2026 17:17 WIB
  •  Medan

RRI.COID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kenaikan laju inflasi inti Amerika Serikat (AS) membuka peluang pengetatan kebijakan moneter Bank Sentral AS atau The Fed ke depan.

"Data inflasi AS atau Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Mei mencatat kenaikan tertinggi sejak 2023. Realisasi inflasi inti AS mencapai 3,4 persen secara tahunan atau year on year," ujarnya, Jumat, 26 Juni 2026.

Menurut Gunawan, kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap pasar saham di kawasan Asia. Mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini diperdagangkan di zona merah.

"IHSG pada sesi pembukaan perdagangan ditransaksikan menguat tipis ke level 6.010. Namun sentimen negatif regional berpeluang menggiring IHSG masuk ke zona merah pada perdagangan akhir pekan ini," ucapnya.

Sementara, nilai tukar rupiah pada sesi pembukaan perdagangan kembali melemah ke level Rp17.980 per dolar Amerika Serikat. Gunawan mengatakan, penguatan dolar AS masih berpotensi berlanjut seiring indeks dolar AS yang bertahan di kisaran 101,5.

Menurutnya, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan tidak akan jauh berbeda dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Di sisi lain, harga emas dunia bergerak menguat ke level 4.020 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,34 juta per gram.

"Harga emas berbalik menguat setelah data inflasi AS dirilis sesuai dengan proyeksi pasar. Rilis data inflasi AS sudah terkonfirmasi oleh pasar dan untuk sementara waktu sentimen akan beralih ke data ekonomi lainnya," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....