Industri Valve Nasional Didorong Naik Kelas Melalui Alih Teknologi
- 30 Jun 2026 22:57 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - PT Katup Industri Indonesia (KII) resmi menjalin kerja sama lisensi dengan perusahaan valve asal Italia, OMS, untuk memperkuat daya saing industri valve nasional. Kemitraan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk transfer teknologi, peningkatan kualitas manufaktur, hingga penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) guna mendukung kebutuhan sektor minyak dan gas (migas).
Managing Director PT Katup Industri Indonesia Evelyn Angelita mengatakan kolaborasi dengan OMS tidak hanya mencakup penggunaan lisensi produk, tetapi juga alih pengetahuan dan teknologi agar produk valve buatan Indonesia mampu memenuhi standar internasional.
“Mereka sudah 130 tahun, pengalamannya sudah sangat luas. Jadi kalau kami bekerja sama dengan mereka, tinggal transfer knowledge, transfer teknologi. Kami memiliki quality system yang sama dengan di Italia sehingga harapannya produknya ber-TKDN tetapi kualitasnya tetap memenuhi standar internasional,” ujar Evelyn, saat penandatanganan nota kesepahaman di pabrik KII, Kawasan Industri Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Selasa, 30 Juni 2026.
Menurutnya, KII membangun fasilitas produksi sejak 2021 dengan menyiapkan berbagai sertifikasi internasional sebelum memasuki tahap manufaktur. Saat ini perusahaan telah mengantongi sertifikasi American Petroleum Institute (API), ISO, serta 18 sertifikat TKDN.
Ia menjelaskan seluruh proses produksi mengacu pada standar internasional, termasuk API 6D, API Q1, dan API 600, yang menjadi acuan industri valve untuk sektor migas. “Yang kami kedepankan adalah standar internasional karena valve yang digunakan di industri migas memang harus memenuhi standar internasional,” katanya.
Chairman PT Katup Industri Indonesia Jacob Mailoa menjelaskan ruang lingkup kerja sama mencakup pengembangan engineering, penerapan sistem mutu, pengelolaan rantai pasok, hingga riset dan pengembangan (R&D).
Menurut Jacob, aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam menghasilkan valve berkualitas tinggi, mengingat komponen tersebut memiliki peran krusial dalam industri minyak dan gas.
“Kerja sama ini dimulai dari engineering, penerapan quality system yang sama, kemudian supply chain material hingga R&D. Harapannya melalui license partner ini terjadi alih teknologi sehingga kami bisa mengembangkan R&D untuk kemajuan industri valve di Indonesia,” ujarnya.
Jacob mengungkapkan proses memperoleh lisensi dari OMS berlangsung sekitar satu tahun. Selama periode tersebut, perusahaan asal Italia itu melakukan berbagai tahapan evaluasi sebelum akhirnya menunjuk KII sebagai mitra lisensi di Indonesia.
Ia menyebut Indonesia menjadi negara pertama yang memperoleh skema alih teknologi dari OMS. Di negara lain, perusahaan tersebut umumnya membangun fasilitas produksinya sendiri.
“Biasanya mereka memiliki pabrik sendiri di negara lain. Baru kali ini mereka mengalihteknologikan brand mereka di Indonesia karena melihat Indonesia sebagai pasar yang potensial,” katanya.
Melalui kerja sama tersebut, KII akan memproduksi valve berukuran hingga 36 inci dan 48 inci untuk memenuhi kebutuhan proyek migas, kilang minyak, LNG, fasilitas lepas pantai (offshore), hingga kegiatan eksplorasi energi. Produk hasil kolaborasi akan dipasarkan menggunakan merek KII OMS, sedangkan produk reguler tetap menggunakan merek KII.
Evelyn menambahkan, produksi dilakukan berdasarkan sistem customized by purchase order (PO), bukan manufaktur massal. Seluruh proses machining dan perakitan dikerjakan di fasilitas produksi KII di Cikarang sesuai spesifikasi masing-masing proyek.
“Ini customized by PO. Tidak ada mass production, semua dibuat berdasarkan pesanan karena market-nya memang sangat khusus,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Director General of Oil and Gas Engineering and Environment Joko Hadi Wibowo menyatakan kerja sama tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat industri penunjang migas nasional melalui penguasaan teknologi dan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.
Menurutnya, pengembangan industri valve menjadi bagian penting dalam memperkuat rantai pasok sektor energi nasional sekaligus mendukung target swasembada energi. “Kerja sama ini tidak hanya penting dari sisi bisnis, tetapi juga memiliki makna strategis dalam mendorong penguasaan teknologi, peningkatan kemampuan produksi dalam negeri, serta daya saing internasional,” kata Joko.
Ia menegaskan TKDN harus dimaknai sebagai upaya meningkatkan kemampuan industri nasional, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif. “TKDN harus mencerminkan peningkatan kapasitas nyata industri nasional, penguasaan teknologi, peningkatan kompetensi SDM, perluasan investasi, serta kemampuan menghasilkan produk yang mampu bersaing di pasar domestik maupun global,” ujarnya.
Sementara itu, Director of The National Capacity and Quality Assurance Working Group Djoko Budiyanto berharap kolaborasi KII dan OMS mampu memperkuat ekosistem industri valve nasional melalui sinergi antarpelaku industri dalam negeri. Menurutnya, integrasi rantai pasok domestik akan meningkatkan penggunaan produk lokal sekaligus memperbesar kontribusi sektor manufaktur terhadap industri energi nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....