Indonesia Berpeluang jadi Global Market Hub Botulinum Toxin dan Turunannya
- 20 Jul 2026 22:03 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Industri kosmetik dan regeneratif medicine saat ini telah menjadi kebutuhan yang terus tumbuh, baik di kalangan perempuan maupun laki-laki, sehingga memiliki pangsa pasar yang sangat besar.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof. Dr. Taruna Ikrar mengatakan, potensi ini membuat Indonesia memiliki peluang menjadi global market hub untuk botulinum toxin dan berbagai produk turunannya.
Peluang Ini semakin nyata dengan investasi yang ditanamkan Group Daewoong untuk pengembangan ini yang mencapai sekitar Rp4,7 Triliun.
"Investasi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan industri farmasi dan bioteknologi nasional," ujar Taruna Ikrar usai meresmikan fasilitas manufaktur dan riset Botulinum Toxin pertama di Indonesia, PT Selatox Bio Farma di Cikarang, Kabupaten Bekasi Senin, 20 Juli 2026.

Taruna menjelaskan, Indonesia resmi memiliki produksi botulinum toksin di dalam negeri. Langkah ini diharapkan mengurangi ketergantungan impor, menekan harga produk dan memperkuat posisi Indonesia di industri bioteknologi dan estetika global.
"Selama ini kebutuhan botulinum toksin di Indonesia masih 100 persen berasal dari impor. Padahal kebutuhan masyarakat terhadap orang tersebut terus meningkat," katanya.
Menurutnya, dengan dimulainya produksi di dalam negeri, harga botol minum touchsin di harapkan menjadi lebih terjangkau, keamanan produk lebih terjamin dan mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun ekspor.
Pada kesempatan yang sama, PT Selatox Bio Pharma telah memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari BPOM. Sertifikasi ini menjadi pengakuan resmi bahwa fasilitas manufaktur dan sistem manajemen mutu Selatan telah memenuhi standar ketat yang ditetapkan oleh BPOM.
"Dengan pencapaian ini, Selatox memperkuat pondasi produksi yang andal untuk menghasilkan produk biofarmasi estetika berkualitas tinggi, sekaligus mempercepat langkah perusahaan dalam mewujudkan visi sebagai pusat manufaktur bertaraf global," ucap Joh Young Hoon, Chief Executive Officer of Selatox.

Joh Young Hoon mengatakan, melalui proses produksi yang presisi dan standar pengendalian mutu yang ketat, pihaknya berkomitmen menghadirkan produk berkualitas tinggi yang dapat dipercaya oleh tenaga kesehatan dan para mitra. Sertifikasi ini menjadi langkah awal bagi Selatox dalam membangun ekosistem biofarmasi yang terintegrasi, mulai dari penelitian dan pengembangan, manufaktur hingga bisnis di ranah global.
"Ke depan, kami juga akan terus berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia lokal serta penerapan teknologi manufaktur berstandar internasional untuk tubuh bersama dan berkontribusi terhadap kemajuan industri farmasi dan bioteknologi nasional," ujarnya.
Agus Tjahajana Wirakusumah, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Transformasi Sistem Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI menyampaikan, sejalan dengan agenda transformasi sistem kesehatan, pemerintah terus mendorong terwujudnya ketahanan kesehatan nasional melalui penguatan kapasitas produksi dalam negeri, penguasaan teknologi serta peningkatan kolaborasi antara pemerintah, industri dan institusi pendidikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....