Tips Lolos LPDP dari Persiapan Esai hingga Wawancara Jadi Kunci ala Albert Lake
- 16 Jul 2026 13:14 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Mendaftar Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bukan hanya soal memenuhi persyaratan administrasi, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi setiap tahapan seleksi. Awardee LPDP RI PK 270 sekaligus Ketua Kelurahan LPDP Universitas Nusa Cendana (Undana), Alberthus Lake, S. Tr. PT, dalam wawancara bersama RRI pada Rabu, 15 Juli 2026, menilai strategi yang tepat sejak awal akan meningkatkan peluang peserta untuk meraih beasiswa tersebut.
Ia mebgungkapkan jika proses seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang ketat menuntut persiapan matang dari setiap calon pelamar, mulai dari pemenuhan berkas hingga penguasaan substansi diri. Terdapat tiga tahapan krusial yang harus dilewati oleh setiap pendaftar, yaitu seleksi administrasi, seleksi bakat skolastik (SBS), hingga tahapan paling menentukan berupa seleksi substansi atau wawancara.
Pada tahap awal pendaftaran, kelengkapan dokumen administratif seperti sertifikat kemampuan bahasa (TOEFL/IELTS) dan penulisan esai proposal diri yang terstruktur wajib dipersiapkan dengan cermat agar tidak gugur di awal. Albert menjelaskan salah satu tahap yang paling menentukan adalah penulisan esai karena menjadi media bagi peserta untuk menunjukkan jati diri, tujuan hidup, dan kontribusi yang ingin diberikan kepada Indonesia.
"Esai itu adalah proposal diri yang harus ditulis secara baik, terstruktur, sistematis, dan logis melalui riset mendalam mengenai kontribusi kita hari ini, besok, serta masa depan," ungkap Ketua Kelurahan LPDP Undana ini. Ia memberikan pemahaman untuk tidak menulis esai hanya untuk terdengar hebat, melainkan mengungkan kejujuran, menggambarkan perjalanan hidup, alasan memilih studi, serta dampak nyata yang ingin diberikan setelah lulus," ujarnya.
Kemudian rencana studi atau proposal riset (TOR) yang diunggah juga memegang peranan vital dan harus memiliki keterkaitan yang kuat dengan pemecahan masalah konkret di daerah asal pelamar. Keselarasan proyeksi kontribusi jangka panjang, bahkan hingga 10 atau 30 tahun ke depan, menjadi poin utama yang akan sangat diperhatikan oleh para tim penguji.
Ketika pelamar berhasil melaju hingga tahap wawancara, tantangan terbesar yang seringkali muncul adalah kendala mental berupa rasa gugup atau kurang percaya diri saat berhadapan dengan penguji secara daring. Untuk mengantisipasi hal tersebut, melakukan latihan wawancara berkali-kali secara virtual bersama rekan sejawat atau alumni awardee terbukti sangat efektif untuk melatih kelancaran berbicara.
Albert menyebut tahapan wawancara menjadi kesempatan peserta untuk menunjukkan karakter dan komitmennya. Ia menyarankan agar peserta memahami isi esai yang telah ditulis, mengikuti perkembangan isu nasional, serta mampu menjelaskan alasan memilih LPDP dengan percaya diri.
"Saat wawancara, jadilah diri sendiri. Pewawancara ingin melihat integritas, konsistensi, dan seberapa besar komitmen kita untuk kembali berkontribusi bagi Indonesia," jelasnya.
Menariknya, sesi wawancara LPDP sebenarnya bukan bertujuan untuk menguji hafalan akademis, melainkan untuk menguliti dan menguji keaslian komitmen dari esai yang telah dibuat oleh pelamar itu sendiri. Pendaftar dilarang membawa catatan atau membaca teks apa pun selama sesi berlangsung, sehingga pemahaman mendalam terhadap rencana riset sendiri mutlak diperlukan.
Ia menambahkan, calon pendaftar juga harus memiliki rencana studi yang jelas dan realistis. Menurutnya, pemilihan program studi harus selaras dengan latar belakang, pengalaman, dan kebutuhan pembangunan daerah sehingga tujuan pendidikan memiliki arah yang kuat.
"Prospek studi itu harus menjawab persoalan yang ada di daerah. Jangan hanya memilih jurusan yang sedang populer, tetapi pilih yang benar-benar bisa menjadi solusi ketika kembali mengabdi," katanya.
Menurut Albert, latihan secara rutin menjadi salah satu cara efektif untuk menghadapi proses seleksi. Simulasi wawancara bersama mentor atau sesama pejuang LPDP dapat membantu peserta menyusun jawaban yang lebih terstruktur sekaligus melatih kemampuan komunikasi.
"Semakin sering berlatih, kita akan semakin siap menghadapi berbagai pertanyaan. Persiapan yang matang akan meningkatkan rasa percaya diri saat seleksi berlangsung," tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan dalam seleksi bukanlah akhir dari perjuangan. Pengalaman tersebut justru dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas esai, memperkuat rencana studi, hingga meningkatkan kemampuan saat wawancara pada kesempatan berikutnya.
"Kalau belum berhasil, jangan berhenti. Evaluasi kekurangan, perbaiki, lalu coba lagi pada pembukaan berikutnya karena setiap proses akan membuat kita lebih siap," ungkap Albert.
Sebagai Ketua Kelurahan LPDP Undana, Alberthus berharap semakin banyak anak muda NTT berani memanfaatkan peluang beasiswa LPDP untuk meningkatkan kapasitas diri sekaligus membangun daerah. "LPDP bukan hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga membentuk pemimpin masa depan yang memiliki visi, integritas, dan semangat kembali mengabdi. Persiapkan diri sebaik mungkin karena kesempatan ini bisa mengubah masa depan,"tutupnya. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....