Ringgit Menguat, Warga Perbatasan RI–Malaysia Sulit Penuhi Kebutuhan Pokok
- 05 Jun 2026 11:24 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Warga di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan, kini menghadapi tekanan akibat melonjaknya nilai tukar ringgit Malaysia. Hal ini mengakibatkan harga sejumlah kebutuhan pokok yang selama ini didatangkan dari Malaysia mengalami kenaikan hingga 30 persen.
Nilai tukar ringgit saat ini mencapai Rp5.200 per satu ringgit. Kenaikan tersebut dirasakan masyarakat karena sebagian besar kebutuhan sehari-hari masih bergantung pada pasokan dari negeri jiran.
Camat Krayan Selatan, Oktavianus, mengatakan sekitar 80 persen kebutuhan pokok warga masih dipenuhi dari Malaysia. Selain lebih dekat, jalur distribusi dari Malaysia juga dinilai lebih mudah dibandingkan mendatangkan barang dari wilayah Indonesia.
"Yang kita butuh dari Indonesia ini kan cuma subsidi itu saja, karena kalau yang reguler itu kan rata-rata per kilonya itu 20 ribu, karena naik pesawat kan," kata Oktavianus, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, biaya angkut barang dari kota Tarakan atau kabupaten Malinau masih sangat tinggi karena harus menggunakan pesawat udara. Akibatnya, harga barang yang masuk ke Krayan menjadi jauh lebih mahal saat tiba di tangan konsumen.
Selain faktor biaya, distribusi barang dari dalam negeri juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Barang harus menunggu antrean pengangkutan dan proses pengirimannya sangat bergantung pada kondisi cuaca.
"Kemudahan juga kalau dari Malaysia, karena kalau dari Tarakan atau Malinau, itu mengantri dulu, karena harus naik pesawat kan, belum lagi kalau cuaca buruk, pesawat tidak bisa terbang," ujarnya.
Lebih lanjut Oktavianus menjelaskan, masyarakat Krayan saat ini belum memiliki banyak pilihan sumber pasokan kebutuhan pokok. Meski nilai ringgit terus menguat dan membuat harga barang semakin mahal, warga tetap berbelanja ke Malaysia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....