Demi Setetes Air: Perjuangan Komunitas NTB Melindungi Mata Air

  • 18 Apr 2026 20:11 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Di tengah ancaman krisis air yang kian terasa, suara kepedulian itu mengalir dari ruang siaran Green Radio. Dalam dialog interaktif di Pro 1 RRI Mataram, hari Sabtu 18 April 2026, Pukul. 16.00-17.00 Wita, publik diajak menengok kembali hubungan paling mendasar antara manusia dan alam: air, sumber kehidupan yang kini kian terancam.

Hadir sebagai narasumber, Maya Yuliana Soeripto, Ketua Portir Indonesia Internasional, membuka perbincangan dengan memperkenalkan lembaga yang ia pimpin. Berbasis di Lombok, yayasan ini awalnya bergerak di bidang sosial kemanusiaan. Namun seiring waktu, arah gerakan mereka bergeser, bukan tanpa alasan.

Kerusakan lingkungan yang kian meluas di berbagai daerah menjadi titik balik. Dari Bali, Jember, hingga Sumbawa, jaringan komunitas ini menyaksikan langsung bagaimana hutan-hutan mulai kehilangan fungsinya. Dari situlah lahir kesadaran: kepedulian terhadap manusia tidak akan pernah terlepas dari kepedulian terhadap lingkungan.

“Kalau lingkungan rusak, kehidupan manusia pasti ikut terdampak,” ungkap Maya.

Fokus gerakan mereka kini jelas yakni menanam pohon dan menjaga sumber-sumber mata air. Sebab bagi mereka, air adalah objek vital yang menentukan keberlangsungan hidup.

Di Nusa Tenggara Barat, persoalan ini terasa nyata. Maya menyebut, pasca gempa 2018, ratusan mata air dilaporkan hilang. Penyebabnya beragam antara lain, penebangan liar, alih fungsi lahan, hingga betonisasi kawasan hutan. Kondisi ini diperparah dengan maraknya penanaman tanaman non-endemik seperti jagung di kawasan perbukitan, yang justru mempercepat hilangnya daya serap tanah terhadap air.

Padahal, menurutnya, keberadaan pohon-pohon tertentu seperti beringin dan bambu memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air tanah. Ketika pohon-pohon ini ditebang, mata air pun perlahan menghilang.

Ironisnya, dampak dari kerusakan ini baru terasa ketika krisis sudah di depan mata. Masyarakat akan bereaksi saat pasokan air dari PDAM menurun, tanpa menyadari bahwa akar persoalannya telah terjadi jauh sebelumnya.

Melalui berbagai kegiatan, Portir Indonesia Internasional berupaya memulihkan kondisi tersebut. Penanaman kembali pohon menjadi langkah nyata yang terus dilakukan, disertai edukasi kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

Wilayah pendampingan mereka di NTB mencakup Lombok Utara, Lombok Barat, hingga Lombok Tengah—daerah-daerah yang kini mulai merasakan penurunan debit air secara signifikan.

Namun bagi Maya, upaya ini tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kesadaran kolektif dari semua pihak, termasuk masyarakat dan pemerintah. Ia berharap ada kebijakan yang lebih tegas dalam melindungi kawasan hutan dari alih fungsi yang tidak ramah lingkungan.

Pesan yang disampaikan dalam dialog ini sederhana, namun mendalam yakni, apa yang ditanam hari ini akan menentukan ketersediaan air di masa depan.

Karena pada akhirnya, menjaga mata air bukan hanya tentang lingkungan—tetapi tentang menjaga kehidupan itu sendiri. (RRI/Joe)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....