Pranoto Mongso, Kearifan Lokal Membaca Tanda Alam

  • 16 Jul 2026 09:22 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Pranoto Mongso merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Jawa yang mengajarkan cara hidup selaras dengan alam. Tradisi tersebut sejak lama menjadi pedoman membaca perubahan musim melalui berbagai tanda yang muncul di alam.

Hal tersebut disampaikan oleh Rizal Dwi Prastyo dalam acara Ragam Budaya Sambung Roso di RRI Pro4 Banjarmasin, Rabu, 15 Juli 2026. Menurutnya, hingga kini Pranoto Mongso masih digunakan oleh sebagian petani sebagai panduan dalam bercocok tanam.

Rizal menjelaskan, kalender tradisional Jawa tersebut memiliki 12 musim atau mongso dengan ciri khas masing-masing. Musim dimulai dari Mongso Kasa (Kartika), Mongso Karo (Pusa), Mongso Katelu, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kasepuluh, Desta, hingga Sadha.

“Setiap musim dalam Pranoto Mongso itu punya ciri alam tersendiri,” ujar Rizal. “Biasanya ditandai daun berguguran, bunga bermekaran, belalang masuk ke tanah, atau perilaku hewan lainnya.”

Ia menegaskan bahwa Pranoto Mongso bukan sekadar kalender tradisional, melainkan warisan pengetahuan leluhur yang lahir dari pengamatan alam secara turun-temurun. Berbagai tanda alam tersebut menjadi acuan petani untuk menentukan waktu tanam maupun panen.

“Teknik niteni atau pengamatan yang dilakukan inilah yang kemudian menjadi panduan bercocok tanam,” katanya. “Harapannya dapat membantu mengurangi risiko gagal panen.”

Rizal menambahkan bahwa setiap musim memiliki karakter yang berbeda sehingga jenis tanaman yang dibudidayakan pun disesuaikan. Saat musim hujan petani umumnya menanam padi, sedangkan pada musim kemarau beralih ke tanaman palawija.

“Dengan adanya Pranoto Mongso ini, masyarakat diajarkan hidup selaras dengan alam,” ujarnya. “Jika kita memperlakukan alam dengan baik, maka alam juga akan memberikan yang terbaik.”

Meski demikian, Rizal mengakui perubahan iklim membuat pola musim tidak lagi selalu sama seperti dahulu. Karena itu, penggunaan Pranoto Mongso perlu dipadukan dengan informasi cuaca modern agar hasil pertanian dapat lebih optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....