Hari Suci Tilem Dimaknai sebagai Momentum Introspeksi Diri

  • 16 Jul 2026 07:07 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Umat Hindu melaksanakan persembahyangan Hari Suci Tilem di Pura Agung Jagatnatha Denpasar, Selasa 14 juli 2026. Upacara yadnya yang rutin dilaksanakan setiap 30 hari menurut penanggalan Bali ini dipuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Pemaron Mandhara dari Griya Kusumayati Pemaron, Denpasar.

Salah seorang staf Kementerian Agama Kota Denpasar, Gek Dewi, menjelaskan bahwa Hari Suci Tilem tidak hanya dimaknai sebagai pergantian fase bulan, tetapi juga sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri. Ia mengatakan, Tilem merupakan fase bulan mati atau bulan gelap yang mengandung makna filosofis agar manusia tidak dipenuhi oleh kegelapan, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan.

" Hari Suci Tilem merupakan momentum untuk introspeksi diri. Tilem yang dimaknai sebagai bulan mati atau bulan gelap mengajarkan kita agar tidak membiarkan pikiran, perkataan, dan perbuatan dipenuhi oleh kegelapan, melainkan selalu diterangi oleh ilmu pengetahuan dan kebajikan," ujarnya.

Ia juga menambahkan, hari suci Tilem menjadi momen yang baik untuk melaksanakan ritual melukat sebagai sarana penyucian diri. Agar bersih lahir dan batin, sehingga pikiran menjadi lebih jernih, hati lebih tenang, serta semakin siap menjalani kehidupan dengan perilaku yang baik dan penuh kebijaksanaan.

" Selain hari suci Purnama, hari cuci Tilem merupakan waktu yang baik untuk melaksanakan ritual melukat sebagai sarana penyucian diri. Agar kita bersih lahir dan batin sehingga pikiran menjadi lebih jernih dan hati lebih tenang," ucapnya.

" Saya berharap peringatan hari suci Tilem ini, umat Hindu untuk terus meningkatkan kualitas spiritual, memperkokoh sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta senantiasa mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari,"ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....