Umat Hindu Wajib Kendalikan Sad Ripu Demi Capai Kedamaian Hidup

  • 16 Jul 2026 06:54 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Penyuluh Agama Ahli Madya Kanwil Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Nengah Rasmiati, S.Ag.,M.Pd.H., mengimbau masyarakat luas untuk membersihkan segala bentuk kotoran batin atau "sampah dalam diri", demi mewujudkan keharmonisan hidup yang sejati. Pesan moral bernilai teologis ini disampaikan langsung ketika menjadi narasumber acara Obrolan Komunitas di Studio Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 14 Juli 2026.

Rasmiati mengungkapkan fenomena penumpukan emosi negatif yang dibiarkan begitu saja di dalam hati, dapat merusak tatanan hubungan sosial, sekaligus memicu kegelisahan jiwa yang berkepanjangan. Kehadiran penyakit batin seperti ini, justru jauh lebih berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia, jika dibandingkan dengan tumpukan sampah fisik yang kasat mata di jalanan.

Terkait bahaya laten dari kotoran batin tersebut, Rasmiati menjelaskan secara mendalam mengenai konsep enam musuh utama manusia, yang bersemayam di dalam jiwa. "Dalam ajaran agama Hindu, segala bentuk emosi negatif ini dikategorikan sebagai Sad Ripu, yang meliputi sifat nafsu berlebihan atau kama, kemarahan atau krodha, keserakahan atau lobha, kebingungan atau moha, kesombongan atau mada, hingga sifat iri hati yang disebut matsarya," ujar Rasmiati.

Rasmiati menambahkan keenam sifat buruk yang melekat pada diri manusia ini, dipastikan akan mendatangkan penderitaan yang luar biasa, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain di sekitarnya, jika tidak dikendalikan sejak dini. Oleh karena itu, kesucian batin menuntut setiap individu, untuk secara aktif membuang segala pikiran buruk, yang berpotensi merusak ketenangan batin.

Proses pembersihan ini pada hakikatnya bukan sekadar rutinitas keagamaan yang bersifat formalitas belaka, melainkan sebuah jalan spiritual menuju tingkat kesucian hidup yang paling hakiki. Kebersihan fisik yang tampak dari luar menurut Rasmiati belum sempurna, jika tidak diimbangi dengan upaya pemurnian kondisi kejiwaan seseorang, dari noda kemarahan dan dendam.

Rasmiati kembali menegaskan esensi utama kebersihan diri yang paling utama dan mendasar, bukanlah sebatas memiliki badan yang bersih dari kotoran fisik. “Kepemilikan hati yang suci menjadi esensi utama, karena hati yang bersih inilah yang akan membawa kedamaian, kebijaksanaan, serta mendekatkan manusia kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa," tutup Rasmiati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....