Naskah Kuno Jadi Kunci Identitas Lokal, Ini Penjelasan Para Ahli

  • 15 Jul 2026 20:47 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Naskah kuno bukan sekadar dokumen tua yang disimpan di museum. Di dalamnya tersimpan sejarah, ilmu pengetahuan, nilai budaya hingga pandangan hidup masyarakat yang menjadi fondasi identitas suatu daerah.

Hal tersebut mengemuka dalam Obrolan Komunitas RRI Surakarta pada Kamis, 9 Juli 2026, bersama Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manasa) Solo yang mengangkat tema "Naskah sebagai Bahan Penyusun Identitas Lokal." kata Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Solo Raya, Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum.

Naskah kuno memiliki karakteristik tersendiri, baik dari segi usia maupun media penulisannya. "Naskah kuno adalah naskah yang ditentukan oleh umurnya, biasanya minimal mencapai 50 tahun. Bahannya pun beragam, mulai dari lontar, kulit kayu, daluang, bambu hingga kulit binatang," ucap Prof. Bani.

Menurutnya, isi naskah jauh lebih beragam dibanding prasasti. Tidak hanya memuat cerita, tetapi juga sejarah, pengobatan tradisional, ilmu pengetahuan, petunjuk membangun rumah, hingga ajaran moral masyarakat pada masa lalu.

Salah satu contohnya adalah Serat Centhini yang kerap disebut sebagai ensiklopedia masyarakat Jawa karena memuat beragam pengetahuan tentang kehidupan masyarakat Jawa.

Naskah Kuno Menjadi Penjaga Jati Diri Bangsa

Ketua Manasa Solo, Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.A., mengatakan keberadaan naskah kuno tetap relevan di era digital karena menjadi penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. "Kita hidup hari ini merupakan keberlanjutan dari masa lalu. Sebuah bangsa yang mengenali identitas dirinya tidak akan menjadi bangsa yang kehilangan jati diri," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat masyarakat melupakan akar budayanya. "Teknologi penting, tetapi manusianya lebih penting. Manuskrip-manuskrip itulah yang merekam jati diri bangsa, " katanya.

Menurut Asep, banyak nilai dalam naskah kuno yang masih sangat relevan hingga sekarang, terutama mengenai hubungan harmonis manusia dengan alam. Ia mencontohkan tradisi seperti sedekah bumi, merti desa, dan bersih desa yang sejatinya mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Serat Wulangreh hingga Serat Centhini Masih Relevan

Dosen Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET) Sukoharjo, Adi Deswijaya, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa berbagai naskah Jawa masih menjadi sumber nilai kehidupan masyarakat. Menurutnya, Serat Wulangreh mengajarkan pembentukan karakter dan adab, sedangkan Serat Centhini memuat banyak pengetahuan, termasuk etika kehidupan berumah tangga.

Ia mencontohkan ajaran Driji Limo dalam Serat Centhini yang berisi pedoman bagi perempuan menjelang pernikahan. "Naskah adalah peninggalan tertulis nenek moyang yang berisikan peradaban masyarakat masa lampau. Nilai-nilai itu sampai sekarang masih bisa dipelajari dan diterapkan sesuai perkembangan zaman," katanya.

Adi menambahkan, berbagai tradisi lokal di Jawa juga dapat ditelusuri melalui naskah kuno, termasuk sejarah terbentuknya suatu desa maupun kebiasaan masyarakat yang masih bertahan hingga kini.

Digitalisasi Jadi Cara Menyelamatkan Manuskrip

Sementara itu, Pengelola Naskah Kuna Museum Radya Pustaka Surakarta, Totok Yasmiran, S.S., mengatakan pelestarian manuskrip kini dilakukan melalui preservasi sekaligus digitalisasi. Langkah tersebut penting mengingat kondisi fisik banyak naskah yang sudah rapuh.

"Kalau sudah didigitalisasi, isi naskah bisa tetap diselamatkan dan masyarakat tidak perlu lagi menyentuh fisiknya sehingga kerusakan dapat diminimalkan," kata Totok.

Menurutnya, Museum Radya Pustaka juga telah bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional, Arsip Nasional, serta mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan untuk memperkuat pelestarian manuskrip. Selain menerima hibah naskah dari masyarakat, museum juga terus melakukan restorasi terhadap koleksi-koleksi penting yang mengalami kerusakan akibat usia.

Naskah Kuno Bukan Sekadar Warisan Masa Lalu

Para narasumber sepakat bahwa naskah kuno merupakan salah satu sumber utama dalam menyusun identitas lokal, meski bukan satu-satunya. Tradisi lisan, peninggalan sejarah, hingga praktik budaya masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membangun jati diri suatu daerah.

Prof. Bani mengingatkan bahwa banyak nilai luhur yang masih relevan untuk kehidupan modern. "Nasihat yang baik itu berasal dari siapa pun patut diterima. Intinya bukan siapa yang berbicara, tetapi isi nasihatnya." ujarnya.

Senada dengan itu, Asep menegaskan bahwa memahami identitas lokal akan membuat bangsa Indonesia lebih siap menghadapi globalisasi. "Dengan mengetahui identitas lokal, kita tidak akan menjadi bangsa yang kehilangan jati diri. Kita siap menghadapi globalisasi, tetapi tetap berdiri di atas kaki sendiri." katanya.

Adi pun mengajak masyarakat untuk ikut menjaga manuskrip sebagai bagian dari pelestarian budaya. "Cintai dan selamatkan manuskrip. Dengan kita mencintai dan menyelamatkan manuskrip, berarti kita juga menjaga jati diri kita." ucapnya.

Sementara Totok menutup diskusi dengan mengutip petuah Jawa yang hingga kini masih relevan. "Kuncara ruming bangsa dumunung ing luhuring budi."

Artinya, kemasyhuran suatu bangsa terletak pada keluhuran budayanya. Karena itu, pelestarian naskah kuno bukan sekadar menjaga dokumen bersejarah, melainkan juga merawat ingatan kolektif dan identitas bangsa agar tetap hidup di tengah derasnya arus globalisasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....