Mahasiswa Sastra Daerah UNS Ajak Generasi Muda Jaga Budaya Jawa
- 31 Mei 2026 10:39 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Pandawa Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan budaya Jawa di tengah derasnya arus modernisasi dan pengaruh budaya global. Hal tersebut disampaikan dalam program Obrolan Komunitas RRI Surakarta bertema “50 Tahun Mencintai Budaya Jawa” yang menghadirkan empat mahasiswa Sastra Daerah UNS, yakni Fadly Maulana, Elsa Nothia, Ananda Novita, dan Muhammad Syaifulloh.
Fadly Maulana menjelaskan bahwa HMP Pandawa merupakan organisasi mahasiswa yang memiliki visi sejalan dengan Program Studi Sastra Daerah, yaitu menjaga dan melestarikan budaya Jawa. Menurutnya, budaya Jawa tidak hanya terbatas pada kesenian, tetapi mencakup hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.
“Kalau bukan generasi muda yang melestarikan budaya Jawa, lalu siapa lagi?” ujarnya.
| Baca juga: Sastra Wayang dalam Tradisi Indonesia |
Menurut para narasumber, tantangan terbesar pelestarian budaya Jawa saat ini adalah anggapan bahwa budaya tradisional identik dengan sesuatu yang kuno dan tertinggal zaman. Padahal, budaya Jawa masih memiliki banyak nilai yang relevan untuk kehidupan modern, mulai dari tata krama, filosofi hidup, hingga pengetahuan yang tersimpan dalam naskah-naskah kuno.
Elsa Nothia, yang berasal dari Jakarta dan baru mengenal budaya Jawa secara lebih mendalam saat kuliah di Solo, mengaku mengalami culture shock. Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya semakin tertarik mempelajari budaya Jawa, khususnya nilai-nilai unggah-ungguh atau tata krama yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Ananda Novita menilai pelestarian budaya Jawa penting untuk menjaga identitas generasi muda. Ia mengaku prihatin melihat semakin berkurangnya praktik sopan santun di kalangan anak-anak dan remaja saat ini.
“Kalau budaya dan nilai-nilai itu hilang, kita akan kehilangan jati diri,” katanya.
Untuk mendekatkan budaya Jawa kepada generasi muda, HMP Pandawa menjalankan berbagai program kerja, seperti Sastra Daerah Mengajar, bakti sosial, hingga Palawa (Pandawa Labuh Jawa), sebuah pagelaran wayang tahunan yang menjadi agenda unggulan organisasi tersebut. Tahun lalu, kegiatan Palawa digelar di Balai Kota Surakarta dengan melibatkan tujuh dalang mahasiswa Sastra Daerah.
Selain itu, mereka juga memanfaatkan media sosial melalui pembuatan konten edukasi budaya, seperti pengenalan kosakata bahasa Jawa dan berbagai pengetahuan budaya yang dikemas secara ringan agar lebih mudah diterima generasi muda. Dalam diskusi tersebut, para mahasiswa juga menyoroti sejumlah nilai budaya Jawa yang masih relevan hingga kini, seperti tepa selira, empan papan, memayu hayuning bawana, serta penghormatan terhadap alam dan sesama manusia.
Mereka juga menilai berbagai tradisi dan kesenian Jawa, seperti ketoprak, wayang orang, tari tradisional, gamelan, hingga tradisi umbul donga, perlu terus dijaga keberlangsungannya sebagai warisan budaya yang tak ternilai. Menutup perbincangan, Muhammad Syaifulloh mengibaratkan budaya Jawa sebagai akar pohon yang harus tetap kokoh meskipun masyarakat terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.
“Modernisasi boleh terus berkembang, tetapi akar budaya harus tetap kuat agar identitas kita tidak hilang,” ujarnya.
Keempat mahasiswa tersebut berharap generasi muda tidak ragu mengambil peran dalam pelestarian budaya, sekecil apa pun langkah yang dilakukan.Pasalnya setiap upaya akan memberikan kontribusi bagi keberlangsungan budaya Jawa di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....