Hidup Bersih Tidak Hanya Soal Lingkungan, tetapi juga Pikiran

  • 15 Jul 2026 12:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Saat isu sampah masih menjadi persoalan yang terus dihadapi Bali, upaya menjaga kebersihan ternyata tidak hanya dimaknai sebagai membersihkan lingkungan. Lebih dari itu, kebersihan juga dimulai dari hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan setiap individu.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 14 Juli 2026. Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Provinsi Bali, Ni Nengah Rasmiati, S.Ag.,M.Pd.H., menekankan bahwa sampah bukan hanya benda yang terlihat secara fisik, melainkan juga segala bentuk emosi dan perilaku negatif yang mengendap dalam diri manusia.

Nengah Rasmiati menjelaskan bahwa setiap orang menghasilkan "sampah" setiap hari, baik berupa sampah fisik maupun sampah batin. Pikiran yang dipenuhi rasa iri, amarah, dendam, hingga perkataan yang menyakiti orang lain merupakan bentuk sampah yang tidak tampak, tetapi dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang. "Sampah bukan hanya yang ada di luar diri kita. Sampah juga ada di dalam diri, berupa pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tidak baik. Karena itu, hidup bersih harus dimulai dari membersihkan diri sendiri," ujar.

Dalam ajaran Hindu, konsep kebersihan tidak hanya dimaknai sebagai kebersihan jasmani, tetapi juga kesucian batin. Melalui pengendalian diri, disiplin menjalankan dharma, serta doa seperti Trisandya, umat diajak untuk secara rutin mengevaluasi dan membersihkan pikiran dari berbagai emosi negatif.

Menurut narasumber, seseorang yang mampu menjaga kebersihan batin akan lebih mudah membangun hubungan yang harmonis dengan keluarga, lingkungan, maupun masyarakat. Sebaliknya, jika rasa iri, ego, dan kemarahan terus dipelihara, maka konflik akan lebih mudah muncul meskipun lingkungan sekitar terlihat bersih."Kalau sampah di luar menimbulkan bau dan merusak lingkungan, sampah di dalam diri dapat merusak ketenangan hati, kesehatan mental, bahkan hubungan dengan orang lain," jelasnya.

Ia menambahkan, menjaga kebersihan batin dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengendalikan emosi, berpikir positif, menjalankan kewajiban dengan penuh tanggung jawab, serta meluangkan waktu untuk berdoa dan melakukan introspeksi diri setiap hari.

Di tengah gencarnya kampanye pengelolaan sampah di Bali, pesan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan menciptakan lingkungan yang bersih juga membutuhkan masyarakat yang memiliki pikiran dan hati yang bersih. Sebab, perubahan besar selalu berawal dari perubahan dalam diri sendiri.

Dengan demikian, gerakan menjaga kebersihan tidak hanya berhenti pada memilah dan membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun karakter yang lebih bijaksana, sabar, dan peduli terhadap sesama. Itulah makna hidup bersih yang sesungguhnya bersih lingkungan sekaligus bersih pikiran.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....