3 Makna Sajian Gendhing Upacara Adat Panggih

  • 13 Jul 2026 09:49 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Sajian Gendhing Upacara Adat Panggih mengalun di Studio Seni Jawa di Lantai 2 Radio Republik Indonesia atau RRI Jakarta dalam program siaran radio Apresiasi Budaya Banyumas di 92,8 FM Pro 4 RRI Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026. Penampilan Grup Karawitan Puspa Laras Wirama bersama narasumber Heru Windarto dan Wahyu Triyono menghadirkan edukasi mengenai makna gendhing pengiring prosesi panggih sebagai bagian penting dari pernikahan adat Jawa.

Ilustras prosesi upacara adat panggih manten mempertemukan mempelai pria dan mempelai wanita yang didampingi orang tua, keluarga, serta para pengiring sesuai tradisi Jawa. Rangkaian prosesi ini menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan budaya atau nguri-uri kebudayaan Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. (Foto: hipwee)

Selain menyajikan pertunjukan karawitan secara langsung, kegiatan itu juga mengulas filosofi setiap tahapan upacara panggih yang masih dilestarikan masyarakat Jawa hingga sekarang. Apa saja 3 makna sajian Gendhing upacara adat Panggih di RRI? berikut ulasannya:

1. Sajian Gendhing Mengiringi Setiap Tahapan Prosesi Panggih

Heru Windarto menjelaskan bahwa Gendhing Upacara Adat Panggih memiliki fungsi yang berbeda pada setiap tahapan prosesi temu pengantin. Setiap komposisi dimainkan mengikuti alur upacara sehingga mampu membangun suasana sakral sekaligus menyampaikan pesan moral kepada kedua mempelai.

“Gendhing yang dimainkan bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi doa yang diwujudkan melalui bunyi gamelan. Di dalamnya terkandung harapan agar kedua mempelai memperoleh kehidupan rumah tangga yang rukun, saling menghormati, penuh kesabaran, serta selalu mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Heru Windarto.

Ia mengatakan para pengrawit tidak hanya dituntut menguasai teknik memainkan gamelan. Mereka juga harus memahami filosofi di balik setiap gendhing agar nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat diteruskan kepada masyarakat.

Menurut Heru, keharmonisan bunyi gamelan mencerminkan kehidupan masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi keseimbangan, kebersamaan, serta saling menghormati. Nilai tersebut menjadi bagian penting yang terus diwariskan melalui pertunjukan karawitan.

2. Prosesi Panggih Sarat Makna Filosofis Kehidupan Rumah Tangga

Prosesi panggih merupakan pertemuan resmi kedua mempelai setelah akad nikah dalam rangkaian pernikahan adat Jawa gagrag Yogyakarta. Berdasarkan keterangan Pemerintah Kabupaten Sleman dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, prosesi tersebut diawali kirab pengantin pria menuju kediaman mempelai wanita yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai tahapan simbolik.

Tahapan tersebut meliputi balangan suruh atau saling melempar daun sirih sebagai lambang melepaskan masa lajang. Prosesi dilanjutkan wijikan atau pembasuhan kaki mempelai pria, kacar kucur sebagai lambang tanggung jawab suami menafkahi keluarga, dhahar klimah, sungkeman kepada orang tua, hingga doa bersama.

Heru Windarto mengatakan setiap tahapan tersebut selalu diiringi gendhing yang disesuaikan dengan suasana prosesi. Iringan gamelan menjadi media penyampai doa sekaligus memperkuat makna simbolik dalam setiap rangkaian upacara.

“Gendhing tidak hanya mengiringi jalannya upacara, tetapi menjadi bagian yang menyatu dengan makna setiap prosesi sehingga pesan budaya dapat diterima oleh seluruh peserta,” ucap Heru Windarto.

Pemerintah Kabupaten Sleman menjelaskan bahwa rangkaian pernikahan adat Jawa bukan sekadar seremoni. Tradisi tersebut menjadi warisan budaya yang mengandung nilai kesucian, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, serta pendidikan karakter bagi generasi muda.

3. Pelestarian Karawitan Perlu Melibatkan Generasi Muda

Wahyu Triyono menilai pelestarian seni karawitan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, pembinaan, dan pemanfaatan media penyiaran. Menurutnya, keberadaan Radio Republik Indonesia menjadi salah satu sarana efektif memperkenalkan budaya kepada masyarakat luas.

“Pelestarian budaya harus dilakukan secara berkesinambungan. Bukan hanya dengan menggelar pertunjukan, tetapi juga melalui pendidikan, pembinaan generasi muda, dan memanfaatkan media penyiaran seperti Radio Republik Indonesia agar masyarakat semakin mengenal warisan budaya yang dimiliki,” kata Wahyu Triyono.

Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari gamelan sekaligus memahami filosofi yang terkandung dalam setiap gendhing. Upaya tersebut dinilai penting agar seni karawitan tetap berkembang di tengah perubahan zaman.

Wahyu menambahkan pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab seniman. Seluruh masyarakat memiliki peran menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.

“Seni karawitan merupakan identitas budaya bangsa yang harus dijaga bersama sehingga tidak tergerus perkembangan zaman,” ujar Wahyu Triyono.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....