Cara Baru Gen Z Merawat Bahasa Jawa: Menolak Kuno, Merangkul Masa Depan

  • 10 Jul 2026 18:38 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kecintaan terhadap bahasa Jawa ternyata tidak memudar di tengah derasnya arus digital. Di Kota Yogyakarta, generasi Z justru menunjukkan cara baru dalam merawat bahasa, sastra, dan aksara Jawa. Mereka tidak selalu hadir melalui ruang-ruang tradisional, melainkan mengekspresikannya lewat kreativitas, semangat belajar, dan keberanian tampil di berbagai ajang apresiasi budaya.

Fenomena menarik ini tercermin dari tingginya partisipasi generasi muda dalam Kompetisi Bahasa dan Sastra Kota Yogyakarta Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti dalam Final Kompetisi Bahasa dan Sastra Kota Yogyakarta Tahun 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Rabu, 8 Juli 2026. Ia menilai, tingginya partisipasi tersebut menjadi penanda, bahasa dan aksara Jawa masih memiliki tempat yang kuat di hati generasi muda.

"Kami melihat semakin banyak pelajar dan anak muda yang memiliki ketertarikan terhadap bahasa dan aksara Jawa. Ini merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan sekaligus memberi optimisme bahwa bahasa dan sastra Jawa akan terus memiliki generasi penerus," ujarnya.

Menurut Yetti, cara generasi muda mencintai budaya kini memang berbeda. Jika dahulu pelestarian lebih banyak dilakukan melalui pewarisan di lingkungan keluarga dan masyarakat, kini generasi Z menghadirkannya melalui ruang-ruang kreatif yang akrab dengan kehidupan mereka, mulai dari pertunjukan, komunitas, karya digital, media sosial, hingga berbagai bentuk kolaborasi lintas disiplin.

"Tugas kita bukan meminta mereka kembali ke masa lalu, melainkan memastikan bahasa, sastra, dan aksara Jawa ikut melangkah bersama masa depan. Selama generasi muda memiliki rasa bangga, rasa memiliki, dan ruang untuk berekspresi, kami optimistis bahasa Jawa akan terus hidup dan berkembang mengikuti dinamika zaman," katanya.

Kompetisi Bahasa dan Sastra, lanjut Yetti, menjadi salah satu ruang penting untuk mempertemukan generasi muda dengan akar budayanya. Lebih dari sekadar ajang mencari juara, kegiatan ini merupakan proses pembinaan dan pewarisan nilai-nilai budaya melalui bahasa.

Dalam kompetisi tersebut, para peserta tidak hanya menunjukkan kemampuan nembang macapat, membaca geguritan dan cerkak, berpidato melalui sesorah, menjadi pranatacara, mengalihaksarakan naskah Jawa, maupun mendongeng. Mereka juga sedang belajar memahami nilai-nilai yang hidup di balik setiap kata, tutur, tembang, dan aksara.

"Masyarakat Jawa memiliki pepeling ajining dhiri dumunung ana ing lathi. Martabat manusia tercermin melalui bahasanya. Bahasa membentuk budi pekerti, sementara sastra menumbuhkan kehalusan nurani. Karena itu, menjaga bahasa dan sastra sejatinya adalah menjaga masa depan," ucapnya.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap ekosistem pendidikan yang turut menghidupkan bahasa dan sastra Jawa, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga memberikan penghargaan kepada sekolah-sekolah yang secara konsisten mengirimkan peserta terbanyak. Sebanyak 97 sekolah telah berpartisipasi dalam penyelenggaraan kompetisi tahun ini, menunjukkan bahwa pelestarian bahasa daerah tumbuh melalui sinergi antara sekolah, guru, orang tua, komunitas, dan pemerintah.

Kasi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Ismawati Retno menyebutkan, sebanyak 767 peserta mengikuti berbagai cabang kompetisi, meliputi nembang macapat, maca geguritan, maca cerkak, sesorah, panatacara, Alih Aksara Jawa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, serta lomba mendongeng tingkat umum. Dari jumlah tersebut, 148 peserta mengikuti final cabang Alih Aksara Jawa, sementara 115 peserta lainnya berhasil melaju ke babak final setelah melalui seleksi video. Kompetisi ini juga melibatkan 97 sekolah dari jenjang SD, SMP, hingga SMA di Kota Yogyakarta.

Bagi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, ratusan peserta yang mengikuti kompetisi ini bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah wajah-wajah muda yang sedang membuktikan bahwa bahasa Jawa tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan terus menemukan kehidupan baru di tangan generasi penerus. Ketika bahasa tetap dituturkan, sastra terus diciptakan, dan aksara Jawa terus dipelajari, saat itu Yogyakarta sedang menyiapkan masa depan kebudayaannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....