Lestarikan Seni, Sanggar Mardika Budaya Pentaskan Lakon "Wirokerti Nagih Janji"

  • 12 Jul 2026 16:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta- Menjaga eksistensi seni tradisional di tengah gempuran zaman modern menjadi komitmen nyata yang ditunjukkan oleh Sanggar Seni Mardika Budaya. Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-3, sanggar yang berlokasi di Padukuhan Jitar, Kalurahan Sumberarum, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman ini sukses menggelar pementasan ketoprak yang sarat akan pesan sosial dan semangat regenerasi.Sabtu 11 Juli 2026.

Sawabi pimpinan sekaligus pengelola Sanggar Seni Mardika Budaya menyampaikan bahwa dalam perayaan ini, Sanggar Mardika Budaya mementaskan sebuah lakon bertajuk "Wirokerti Nagih Janji". Uniknya, pementasan ini tidak terpaku pada pakem formal seperti ketoprak RRI atau Sapta Mandala. Dialog yang dibawakan sengaja menggunakan bahasa sehari-hari yang santai (saunine), sehingga pesan dan edukasi yang diselipkan di dalam cerita menjadi lebih mudah dicerna oleh masyarakat pedesaan.

“Bukan sekadar hiburan visual, tema utama pementasan kali ini menyoroti fenomena sosial yang tengah marak di masyarakat, yakni masalah keuangan., ujar Sawabi. Sawabi menambhakan bahwa alur cerita difokuskan untuk mengedukasi warga mengenai bahaya laten bank pelecit (rentenir) serta jeratan pinjaman online (pinjol) ilegal. Melalui media ketoprak, warga diajak untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam mengelola keuangan serta meminjam uang.

Pementasan ini melibatkan sedikitnya 19 orang pemain yang merupakan representasi dari kerukunan warga kampung setempat. Latar belakang profesi para pemain pun sangat beragam, mulai dari pensiunan, Pegawai Negeri Sipil (PNS), petani, hingga kenek bus. Kebersamaan ini semakin kuat dengan hadirnya bantuan dari rekan-rekan seniman di kecamatan tetangga, seperti Seyegan dan Minggir.

Dukungan penuh terhadap upaya pelestarian ini datang dari Pimpinan Woro Moro Entertainment, R. Ngt Adhyas Woro. Menurutnya, kolaborasi yang ditunjukkan oleh Sanggar Mardika Budaya adalah wujud nyata kegotongroyongan masyarakat agar seni budaya tidak punah.

"Sebagai pelaku pelestari budaya dan adat tradisi, saya selalu mendukung penuh upaya masyarakat melalui berbagai event. Di sini ada edukasi, ada juga hiburan. Inilah cara kita bersama-sama memastikan Keistimewaan Yogyakarta tetap ada dan lestari, saya siap selalu mendukung" ujar R. Ngt Adhyas Woro yang akrab di sapa Bunda Woro.

Salah satu daya tarik utama dan pembeda dalam perayaan HUT ke-3 ini adalah kuatnya napas regenerasi. Di bawah didikan Sawabi, anak-anak usia sekolah mulai dari tingkat SD hingga bangku kuliah dikumpulkan dan dilatih untuk menjadi pengrawit (pemain musik gamelan) junior.

Selain ketoprak dewasa, panggung juga dimeriahkan oleh pementasan Langen Carita yang mengangkat tema permainan anak (dolanan anak) zaman dulu. Koordinator anak-anak pemain Langen Carita dan pengrawit junior, Dewi Susilawati, menjelaskan bahwa pementasan ini melibatkan 23 anak sebagai pemain lakon dan didukung penuh oleh 16 anak sebagai pengrawit.

"Untuk persiapan tampil ini, anak-anak telah menjalani latihan intensif sebanyak 10 kali dalam kurun waktu 2 bulan. Bagi anak-anak pemain Langen Carita, ini merupakan pengalaman pertama mereka naik panggung," ujar Dewi.

Berbeda dengan para pemain lakon cilik, anak-anak pengrawit Mardika Budaya Junior justru sudah memiliki jam terbang. Bergabung selama kurang lebih satu tahun, kelompok pengrawit cilik ini tercatat sudah pernah tampil sebanyak 5 kali di berbagai tempat.

Panggung juga dimeriahkan oleh pementasan Langen Carita yang mengangkat tema permainan anak (dolanan anak) zaman dulu. (Foto:RRI/Titik)

"Harapan ke depan, semoga generasi muda bisa lebih mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya yang kita miliki, khususnya kebudayaan Yogyakarta seperti seni karawitan, sekaligus menjaga warisan luhur para leluhur,"kata Dewi.

Konsistensi dan ketekunan dalam berlatih diakui menjadi kunci suksesnya pementasan ini. Valentin Suratima, salah seorang warga lokal yang bertindak sebagai pengrawit, membagikan ceritanya mengenai proses latihan intensif selama dua hingga tiga bulan demi mempersiapkan penampilan terbaiknya.

Bagi Valentin, kerumitan teknik menabuh gamelan tradisional bukanlah sebuah beban asalkan dijalani dengan ketulusan dan rasa cinta pada seni.

"Serumit apa pun teknik yang dipelajari, kalau sudah dinikmati, semuanya akan menjadi mudah," kata Valentin Suratima sembari melempar senyum puas setelah berhasil mengiringi jalannya pementasan hingga usai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....