Unik, Pementasan Wayang dengan Juru Bahasa Isyarat di Omah Kahangnan

  • 20 Apr 2026 10:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul – Pementasan wayang biasanya identik dengan penggunaan wayang berbahan kulit, alur cerita Ramayana atau Mahabharata, serta iringan musik tradisional. Namun, hal berbeda dilakukan oleh Jaringan Wayang Kontemporer (JWK), yang menggelar pementasan wayang unik di Omah Kahangnan, Guwosari, Pajangan, Bantul, pada Minggu, 19 April 2026.

Dari pantauan RRI, pementasan ini memadukan musik modern dan cerita terkait inklusivitas. Uniknya lagi, di samping dalang juga tampak juru bahasa isyarat yang menjelaskan alur cerita.

Fasilitator acara dan pemilik Omah Kahangnan, Hangno Hartono menjelaskan bahwa secara mudah, wayang kontemporer tidak menggunakan pakem atau aturan wayang kulit. Bahan yang digunakan pun bebas sesuai dengan keinginan seniman.

“Bahannya bebas, biasanya itu dari karton. Bisa juga dari bahan alam seperti rumput, daun, dan tangkai kelapa. Bahkan limbah plastik pun juga bisa dibuat wayang. Jadi bahannya bervariasi,” ucapnya kepada RRI.

Selain itu, cerita yang dibawakan juga bebas. Hangno menyebut, cerita yang dibawakan juga berfungsi sebagai kritik terkait kondisi sosial yang berkembang di tengah masyarakat saat ini.

“Intinya wayang non cerita Mahabharata dan Ramayana. Sederhananya begitu. Jadi ceritanya bebas mau alien atau cerita kekinian yang lain. Kalau bahasa wayang itu kan sebetulnya bahasa bahasa yang komunikatif. Kami melihat itu sebagai sarana komunikasi paling efektif sebetulnya,” katanya.

Meski berbeda dari pementasan pada umunya, Hangno menyebut jika animo masyarakat terbilang cukup tinggi. Menurutnya, hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat membutuhkan bentuk hiburan yang baru.

“Saya melihat bahwa mereka itu sebetulnya rindu hal-hal yang baru. Karena kontemporeritas itu bicara masalah kebaruan. Baik kebaruan bentuk maupun kebaruan narasi. Narasi cerita maupun sistem pertunjukannya. Dan kebaruan-kebaruan itu sebetulnya menarik dalam konteks seni,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu dalang yakni Kus Sri Antoro, mengaku sengaja memilih tema inklusif karena prihatin dengan kondisi saat ini. Ia berharap, pementasan ini mampu menyadarkan masyarakat terkait pemenuhan hak kaum inklusif.

“Layanan publik itu harus dipenuhi oleh negara. Kami ingin teman-teman di pemerintahan juga bisa menyadari bahwa semua warga negara punya hak. Dan masyarakat juga perlu menghormati dan memberi kesempatan kepada kaum inklusif. Harapannya seperti itu,” katanya.

Lebih lanjut, pementasan ini digelar setiap Minggu Legi atau sekitar 35 hari sekali. Saat ini anggota Jaringan Wayang Kontemporer sudah mencapai 15 orang yang berasal dari Bali, Jawa Barat, hingga Jerman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....