Gen Z Berekspresi Modern Namun Tetap Membumi dan Njawani
- 23 Mei 2026 16:40 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di era globalisasi, generasi muda kerap mengadopsi tren modern dalam mengekspresikan diri. Salah satunya melalui fenomena tampil memukau yang akrab disebut slay.
Namun, kebebasan berekspresi ini dinilai tidak akan melunturkan identitas budaya lokal jika dipadukan dengan nilai-nilai njawani guna membentuk karakter tangguh dan berakar pada kearifan lokal.
Dalam bincang-bincang hangat di acara "Kawruh" RRI Pro 4 Yogyakarta Jumat, 22 Mei 2026, Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, Basilica Dyah Putrantri, mengungkap, memadukan konsep modern dan tradisional ini merupakan manifesto penting dalam pendidikan karakter. Hal ini selaras dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional untuk mengingatkan kembali akar budaya generasi muda.
Melihat dinamika pergaulan masa kini, perempuan yang akrab disapa Lika ini menilai bahwa indikator keberhasilan generasi muda bukanlah sekadar seberapa keren penampilan fisiknya. Bagi Lika, esensi utamanya terletak pada seberapa besar wibawa, kualitas diri, serta budi pekerti yang mampu ditonjolkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Istilah slay ini sangat pas digambarkan melalui pepatah Jawa 'ajining raga saka busana, ajining diri saka lathi'. Jadi tidak sekadar keren di permukaan, tetapi juga harus berani menunjukkan keunikan, kualitas diri, wibawa, serta tata krama yang mendalam," ujar Lika.
Kini, seiring berkembangnya zaman, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Hendro Kumoro, M.Hum., yang turut hadir sebagai narasumber, memandang bahwa berekspresi secara maksimal bagi anak muda adalah hal yang wajar. Ia menegaskan bahwa tren masa kini harus tetap diimbangi dengan sikap membumi pada etika budaya Jawa.
Untuk memastikan nilai-nilai budaya tetap hidup dan relevan, Prof. Hendro menekankan pentingnya peran generasi tua dalam memberikan teladan melalui prinsip ing ngarso sung tuladha.
Generasi tua diimbau untuk tidak sekadar menyalahkan generasi muda yang masih canggung berbahasa Jawa atau bersikap, melainkan merangkul dan mengarahkannya secara perlahan. Tak hanya fokus pada penampilan, anak muda juga dibekali pemahaman filosofis agar tetap memiliki sikap andhap asor (rendah hati) dan empan papan (mampu menempatkan diri sesuai situasi).
Dalam sesi tanya jawab dengan pendengar terkait maraknya tren anak muda yang mulai percaya diri mengenakan kain tradisional di tempat umum, Hendro menyambut positif gerakan itu. Menurutnya, kebiasaan mengenakan atribut lokal menjadi langkah awal yang baik untuk menumbuhkan rasa cinta dan kesadaran budaya di kalangan Gen Z.
"Anak muda itu jangan langsung disalahkan saat keliru, tetapi dengarkan dan 'didunungke' (diarahkan). Beri teladan yang baik, biarkan mereka terbiasa dulu agar muncul tresno jalaran soko kulino, baru setelah itu kita ajak untuk mendalami filosofinya," kata Prof Hendro
Keberlanjutan nilai-nilai luhur ini tentu tidak lepas dari sinergi berbagai pihak, mulai dari ekosistem keluarga hingga lingkungan pendidikan. Dukungan pemerintah daerah melalui kebijakan berbusana gagrak Jogja menjadi wujud nyata bahwa pelestarian identitas lokal terus diupayakan secara masif.
Dengan memegang prinsip filosofis ngeli neng ora keli, kedua pakar berharap masyarakat mampu mengikuti arus dinamis globalisasi tanpa harus hanyut, sehingga generasi muda di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat terus berkembang menjadi individu modern yang tidak kehilangan akar budayanya. (Galih)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....